In The Lowest of The Lowest


Perjalanan menuju destinasi bersama Tuhan sebagai partner kita, seringkali tidak mudah. Tuhan pun tidak memberitahu secara spesifik apa yang Dia akan kerjakan. Bagi Abraham, Ishak, Yakub, Daud, Yusuf; perjalanan mereka pun tidak mudah.

Mereka tidak sempurna, bahkan mereka melakukan kesalahan dan dosa yang fatal. Daud berzinah dengan Batsyeba, istri Uria. Untuk menutupinya, dia membunuh Uria. Yusuf menyombongkan mimpinya kepada kakak-kakaknya. Abraham berbohong kepada Abimelekh dan Firaun. Semua tokoh-tokoh di Alkitab ini mempunyai kekurangan-kekurangan dalam karakter mereka. Tetapi Tuhan tidak pernah menyerah terhadap mereka.

Tuhan tertarik pada pembentukan karakter kita

Tuhan tidak tertarik pada apa yang kita lalui, seberapa berat penderitaan dan cobaan yang kita alami. Yang Tuhan pentingkan adalah karakter ilahi yang akan keluar dari kita sebagai hasil dari proses tersebut. Segala perjalanan, kesulitan, kemalangan yang dilalui oleh Daud menghasilkan seorang Raja Daud yang layak dimiliki Israel sebagai pemimpin mereka. Perjalanan yang sulit yang dilalui Yusuf menghasilkan seorang perdana menteri Yusuf yang bijaksana, pandai dan yang menyelamatkan Israel dari kelaparan.

Segala proses yang mereka lalui menciptakan seorang manusia yang baru di dalam Tuhan. Dibutuhkan waktu tiga belas tahun sebelum Yusuf duduk di takhta kekuasaan sebagai perdana menteri di samping Firaun. Dibutuhkan waktu selama itu untuk hikmat dan karisma dibangun dan dikembangkan di dalam diri Yusuf sehingga ia layak untuk posisi tersebut.
Yusuf mengalami titik terendah, yaitu masa tergelap, tersulit dan terburuk dalam hidupnya yaitu ketika ia berada dalam penjara. Kita pun akan mengalami saat-saat tergelap dalam kehidupan kita. Pada saat itu, menyerah bukanlah suatu pilihan. Camkan hal ini!

Keluar dari pertandingan Tuhan bukanlah suatu pilihan. Tidak ada pemenang bila seseorang memutuskan keluar dari pertandingan. Pemenang bertahan sampai akhirnya.

Saat berada di titik terendah, ingat hal-hal ini

Dalam perjalanan yang sulit, menghadapai tantangan dan pencobaan, selalu ingat bahwa:

1. Champions are never chosen from the unscarred of the unwounded. Pemenang atau pahlawan tidak pernah terpilih dari kelompok orang-orang yang tidak pernah terluka.

Seorang pahlawan atau pemenang dikenal dari bekas-bekas lukanya. Bekas-bekas luka adalah tanda-tanda perjuangan kita. Suatu hari tanda-tanda luka tersebut akan menjadi kebanggaan yang menceritakan keberhasilan Anda melalui tantangan-tantangan dalam hidup Anda. Seberapa dahsyatnya seseorang sebagai seorang petarung dapat dilihat dari banyaknya bekas luka yang dimilikinya.

Yesus memiliki bekas-bekas luka akibat penganiayaan sebelum dan pada saat Dia disalibkan (Zakharia 12:10). Rasul Paulus meninggal dengan punggung penuh luka akibat cambukan sebanyak lima kali 39. Yusuf meninggal di usia 110 tahun dengan bekas-bekas luka di leher dan kakinya akibat rantai besi yang dipasang sewaktu dia menjadi budak dan di penjara.

Masalah dan tantangan bukanlah hal yang negatif karena:
• Masalah tidak berarti bahwa Tuhan meninggalkan kita, tidak menyertai kita, atau tidak mencintai kita.
• Masalah membuktikan bahwa kita adalah bagian dari umat manusia.
• Masalah menggembleng kita menjadi lebih kuat. Kekuatan dan ketahanan kita dilatih dalam menghadapi kesukaran.
• Masalah akan membuat roh kita berapi-api.
• Masalah memaksa kita berseru kepada Tuhan (Yeremia 33:3).

Sisi indah dari suatu masalah, yaitu bahwa di tengah masalah selalu terdapat peluang. Jika Anda merasa Tuhan meninggalkan Anda, ketahuilah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan atau membiarkan Anda sendiri. Diamlah di hadapan Tuhan dan dengar suara-Nya (Yesaya 49:14-15).

2. God is taking your adversity and turning it into your advantage. Tuhan akan mengambil kemelut dan kesukaran dalam hidup Anda dan mengubahnya menjadi keuntungan bagi Anda.

Yusuf mengalami banyak kesulitan dan ketidakadilan dalam hidupnya. Tetapi dia senantiasa setia dan tabah melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Sementara Yusuf di penjara, Tuhan sedang bekerja dengan orang-orang fasik demi kebaikan Yusuf: takhta perdana menteri sedang dipersiapkan untuknya. Jadi ingatlah bahwa saat Anda berada dalam situasi penjara dalam hidup Anda, pemberhentian Anda yang berikutnya adalah istana raja. Tetapi kita butuh tangan Tuhan untuk sampai ke sana.

3. My adversity will lead me to my achievement. Kemelut dalam hidup Anda akan membawa Anda kepada pencapaian dan keberhasilan Anda.

Segala kesulitan dan tantangan dalam hidup Anda akan membawa Anda menuju kemenangan jika Anda meresponinya dengan benar. Tempat yang tadinya mengancam Yusuf menjadi tempat yang membuat dirinya sukses, yang kemudian membawanya ke hadapan Firaun di istana. Jika di tempat kesukaran kita bisa tabah bertekun dengan Tuhan dan bertahan sampai akhirnya, maka kita akan keluar menjadi pemimpin yang luar biasa.

Tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan

Fakta bahwa Anda masih berjuang dan bertekad untuk berusaha, membuktikan bahwa Anda belum kalah. Sebagaimana setiap benih yang ditabur di tanah harus bergumul dan mendorong tanah untuk menemukan jalan keluar agar bisa mendapat cahaya matahari dan udara; benih inipun bertahan menghadapi cuaca buruk sebelum dapat bertumbuh menjadi pohon yang besar.

Masalah menyadarkan kita bahwa kita membutuhkan Tuhan. Untuk setiap masalah yang tidak dapat kita atasi dengan kekuatan kita sendiri, kita membutuhkan kekuatan dan kuasa yang lebih besar yang datang langsung dari Tuhan. Kabar baiknya adalah kuasa tersebut tidak disimpan di sorga; kuasa tersebut adalah milik kita asal kita memintanya. …Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. –Yakobus 4:2

Doa adalah suatu kebutuhan, bukan keharusan

Berdoa adalah bersekutu dengan Tuhan. Ini adalah kebutuhan kita sebagai orang percaya. Doa bukan karena kita mengikuti program atau mentaati peraturan. ”Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” – Lukas 21:36.

…dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.

– 2 Tawarikh 7:14.
Doa adalah kunci yang paling tepat di tengah-tengah tekanan, ujian, pencobaan. Saat kita berdoa, kita sebenarnya sedang mempersiapkan diri kita untuk melakukan kehendak Allah. Doa bukan membuat Tuhan bekerja untuk kita, tetapi sebaliknya. Doa mempersiapkan diri kita untuk mentaati firman Tuhan.

Salah satu pendoa syafaat terbesar berkata: “Anda lebih berkuasa saat tersungkur di lutut Anda daripada saat berada di puncak gunung, karena saat Anda berlutut menyembah di hadapan-Nya, Tuhan akan menunjukkan kepada Anda apa yang akan terjadi”.

Supaya doa Anda efektif, maka di tengah kesulitan ada tiga hal yang harus Anda perangi yaitu: kekuatiran, ketidakpercayaan dan keengganan untuk berdoa.

Di tengah perjalanan yang penuh dengan tantangan dan pencobaan, Tuhan sedang mentransformasi hidup kita. Tuhan sedang mengubah dan membentuk kembali hidup kita. Hidup yang tampaknya rusak dan kacau, dibentuk-Nya kembali. Asal kita tidak berontak, asal kita mengambil sikap yang benar di tengah kesulitan dan kegelapan, maka Tuhan bisa bekerja dengan leluasa menghasilkan karakter Kristus di dalam kita. Dan di tengah perjalanan tersebut, kemakmuran yang tidak terbatas sedang menanti kita. Tuhan telah lakukan kepada Yusuf, Tuhan pun akan melakukan yang sama terhadap kita.

By : PS. Indri Gautama
Sumber: http://jawaban.com/news//spiritual/detail.php?id_news=110416214223

Advertisements

Emergency Bible Numbers (Nomor-nomor panggilan darurat dalam Alkitab)


 

Anda mengalami suatu hal yang tidak menyenangkan dalam hidup ini???? Silahkan baca Alkitab dan percaya itu terjadi dalam hidupmu !!

Berikut nomor-nomor panggilan darurat dalam Alkitab yang bisa membantu hidup anda pulih :

 

10341536_670337339704923_7418383243996801182_n

 

 

 

1 Raja-Raja 19:1-18: You Are Not Alone…!


Pagi ini saya membaca dan merenungkan suatu cerita dalam Alkitab,  tentang Nabi Elia yang depresi. Setelah beberapa saat saya renungkan, hari ini saya mau menyampaikan kabar baik sekaligus kabar buruk berdasarkan Firman Tuhan hari ini …

I. Kabar Buruk 

Setiap kita – siapapun itu – punya potensi untuk mengalami dan merasakan apa yang dialami dan dirasakan oleh Elia waktu itu! Elia habis-habisan melakukan apa yang terbaik, yang benar .. tapi kenyataannya, hasilnya … diluar harapan dan perkiraan!

Elia berjuang untuk menyadarkan bangsa Irael dari perbuatan mereka yang salah: menyembah baal … dengan memerangi 450 nabi baal .. Akan tetapi ternyata justru hal itu membuat Izebel – ratu Israel pada waktu itu – marah luar biasa

Ayat 1-2

Ketika Ahab memberitahukan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia dan perihal Elia membunuh semua nabi itu dengan pedang, maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: “Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu.”

Bukannya sadar, malah ngejar! Balas dendam!
Ini dia masalah yang dihadapi oleh Elia.Yang saya maksud dengan kabar buruknya adalah bagaimana cara Elia dalam menghadapi masalah yang terjadi waktu itu … hal itu pulalah yang sering kita pikirkan dan lakukan dalam menghadapi setiap permasalah-permasalahan yang terjadi dalam kehidupan kita.Cara Elia:

Elia lari dari masalah dan gak berani kembali

Ayat 3-4

Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana. Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”
Elia kehilangan semangat (bahkan untuk makan)

Ayat 5-7

Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: “Bangunlah, makanlah!” Ketika ia melihat sekitarnya, maka pada sebelah kepalanya ada roti bakar, dan sebuah kendi berisi air. Lalu ia makan dan minum, kemudian berbaring pula.
Elia merasa sendirian! Tidak ada jalan keluar, penolong!

Ayat 10-14
Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.” Lalu firman-Nya: “Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!” Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu.
Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa. Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?”

II. Kabar Baik

Kabar baiknya adalah Allah selalu siap sedia menolong siapa saja .. yang datang kepada-Nya!! Pertanyaan pentingnya sewaktu kiga berada dalam satu pergumulan adalah siapa yang kita datangi???

Elia datang kepada Allah (atau lebih tepatnya Allah yang datang untuk mencari dan menemukan Elia!) Dan ini menarik untuk kita lihat bersama bagaimana campur tangan Allah dalam membangkitkan kembali semanga Elia waktu itu.

Satu hal yang kadang tidak kita sadari ketika permasalahan datang menghampiri adalah kita menjadi tergesa-gesa dalam menyimpulkan segala sesuatu.
Misal:
– gagal ujian
– gagal masuk kerja
(hati-hati kesimpulan yang salah bisa berujung masalah semakin bermasalah)
Kesimpulan yang salah: “Aku ini memang orang yang selalu gagal!”
Padahal, kegagalan itu bukan orangnya, tapi peristiwanya – satu peristiwa di mana kita gagal! Besok? Kita gak tahu sama sekali!

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, Elia juga terjebak dalam kesimpulan yang tidak tepat. Mari kita lihat …

Ayat 10, 14

Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.”

Kemudian perhatikan bagaimana Tuhan merespon jawaban Elia tadi …Ayat 15-16

Firman TUHAN kepadanya: “Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram. uga Yehu, cucu Nimsi, haruslah kauurapi menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engkau.

Apa yang terjadi??
Elia merasa dia sendirian dalam menghadapi masalahnya itu! Akan tetapi satu hal yang Elia lupakan adalah fakta bahwa dia ternyata tidaklah sendirian! Ada orang-orang yang siap membantunya untuk menyelesaikan masalah itu … dan lebih dari semuanya adalah ada Tuhan yang siap untuk menolong dia!

Saya pernah mendengar cerita tentang 2 orang ibu yang pulang dari pasar sama-sama, di jalan satu ibu cerita tentang pergumulannya … Setelah mendengar cerita itu, ibu yang satu lagi lalu berkata: “Sabar ya bu … Tuhan pasti menolong ibu .. ” Mendengar hal itu ibu tadi langsung balikin: “Ibu gak tahu sih apa yang saya rasakan sekarang ini!!”

Diam sesaat .. ibu yang satu lagi itu mulai menceritakan tentang pergumulan dalam kehidupannya ..

Selesai ibu itu bercerita … si ibu yang ‘ngeyel’ tadi langsung berkata:

“Hah .. yang bener nih bu … masa sih ibu bergumul seberat itu?? Kok gak keliatan yah … ibu kelihatannya sukacita, ceria selalu … ternyata ibu memiliki beban yang berat seperti yang ibu cerita tadi …”

Apa yang membedakan dua orang ibu yang sedang sharing tadi???
“Perasaan bahwa dia melalui masalah itu tidak pernah sendirian”

Dalam hidup bergereja … kita akan sangat mungkin merasakan bahwa kita ini ternyata tidaklah pernah sendirian dalam menghadapi permasalan-permasalahan kita …

Misal: saya punya masalah “A”
Kemungkinan besar di jemaat kita ini juga ada jemaat yang pernah menghadapi masalah “A” dan mereka telah mengalahkan masalah “A” itu.

Itu artinya:
Saya bisa dikuatkan untuk tetap melanjutkan kehidupan saya dan percaya bahwa saya bisa juga mengalahkan masalah “A” itu .. ketika kita saling share bersama, saling menolong, menguatkan dan membangun iman kita di dalam persekutuan kita!

Itu baru orang lho … mereka bisa menguatkan kehidupan kita melalui kesaksian kehidupan mereka melampaui masalah yang pernah mereka hadapi waktu itu …

Bagaimana dengan Tuhan? Kalau orang aja bisa se-menguatkan itu dalam kehidupan kita,Apalagi Tuhan kita yang LUARBIASA….!!!??