In Christ Alone, My Hope is Found


In Christ alone my hope is found;
He is my light, my strength, my song;
This cornerstone, this solid ground,
Firm through the fiercest drought and storm.
What heights of love, what depths of peace,
When fears are stilled, when strivings cease!
My comforter, my all in all—
Here in the love of Christ I stand.

In Christ alone, Who took on flesh,
Fullness of God in helpless babe!
This gift of love and righteousness,
Scorned by the ones He came to save.
Till on that cross as Jesus died,
The wrath of God was satisfied;
For ev’ry sin on Him was laid—
Here in the death of Christ I live.

There in the ground His body lay,
Light of the world by darkness slain;
Then bursting forth in glorious day,
Up from the grave He rose again!
And as He stands in victory,
Sin’s curse has lost its grip on me;
For I am His and He is mine—
Bought with the precious blood of Christ.

No guilt in life, no fear in death—
This is the pow’r of Christ in me;
From life’s first cry to final breath,
Jesus commands my destiny.
No pow’r of hell, no scheme of man,
Can ever pluck me from His hand;
Till He returns or calls me home—
Here in the pow’r of Christ I’ll stand.

Lagu ini sangat merhema buat hidupku hari-hari ini, sebab karena Kasih Karunia saja kita diselamatkan, bukan oleh perbuatan baik kita. Kita tidak layak menerima keselamatan itu, tetapi Allah yang melayakkan kita oleh karena kita percaya kepada Kristus. Rahasia hidup yang berkuasa adalah menerima segala sesuatu yang telah Yesus capai di kayu salib untuk kita. Oleh karena kita percaya kepada Kristus dan dibaptis dalam darahNya dan dalam RohNya yang kudus, kita menerima kuasa dan kasih karunia, sehingga kita dapat hidup berkemenangan, berkuasa, dan mendampaki dunia. Haleluya, Terpujilah Tuhan Yesus.

Advertisements

1 Raja-Raja 19:1-18: You Are Not Alone…!


Pagi ini saya membaca dan merenungkan suatu cerita dalam Alkitab,  tentang Nabi Elia yang depresi. Setelah beberapa saat saya renungkan, hari ini saya mau menyampaikan kabar baik sekaligus kabar buruk berdasarkan Firman Tuhan hari ini …

I. Kabar Buruk 

Setiap kita – siapapun itu – punya potensi untuk mengalami dan merasakan apa yang dialami dan dirasakan oleh Elia waktu itu! Elia habis-habisan melakukan apa yang terbaik, yang benar .. tapi kenyataannya, hasilnya … diluar harapan dan perkiraan!

Elia berjuang untuk menyadarkan bangsa Irael dari perbuatan mereka yang salah: menyembah baal … dengan memerangi 450 nabi baal .. Akan tetapi ternyata justru hal itu membuat Izebel – ratu Israel pada waktu itu – marah luar biasa

Ayat 1-2

Ketika Ahab memberitahukan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia dan perihal Elia membunuh semua nabi itu dengan pedang, maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: “Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu.”

Bukannya sadar, malah ngejar! Balas dendam!
Ini dia masalah yang dihadapi oleh Elia.Yang saya maksud dengan kabar buruknya adalah bagaimana cara Elia dalam menghadapi masalah yang terjadi waktu itu … hal itu pulalah yang sering kita pikirkan dan lakukan dalam menghadapi setiap permasalah-permasalahan yang terjadi dalam kehidupan kita.Cara Elia:

Elia lari dari masalah dan gak berani kembali

Ayat 3-4

Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana. Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”
Elia kehilangan semangat (bahkan untuk makan)

Ayat 5-7

Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: “Bangunlah, makanlah!” Ketika ia melihat sekitarnya, maka pada sebelah kepalanya ada roti bakar, dan sebuah kendi berisi air. Lalu ia makan dan minum, kemudian berbaring pula.
Elia merasa sendirian! Tidak ada jalan keluar, penolong!

Ayat 10-14
Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.” Lalu firman-Nya: “Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!” Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu.
Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa. Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?”

II. Kabar Baik

Kabar baiknya adalah Allah selalu siap sedia menolong siapa saja .. yang datang kepada-Nya!! Pertanyaan pentingnya sewaktu kiga berada dalam satu pergumulan adalah siapa yang kita datangi???

Elia datang kepada Allah (atau lebih tepatnya Allah yang datang untuk mencari dan menemukan Elia!) Dan ini menarik untuk kita lihat bersama bagaimana campur tangan Allah dalam membangkitkan kembali semanga Elia waktu itu.

Satu hal yang kadang tidak kita sadari ketika permasalahan datang menghampiri adalah kita menjadi tergesa-gesa dalam menyimpulkan segala sesuatu.
Misal:
– gagal ujian
– gagal masuk kerja
(hati-hati kesimpulan yang salah bisa berujung masalah semakin bermasalah)
Kesimpulan yang salah: “Aku ini memang orang yang selalu gagal!”
Padahal, kegagalan itu bukan orangnya, tapi peristiwanya – satu peristiwa di mana kita gagal! Besok? Kita gak tahu sama sekali!

Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, Elia juga terjebak dalam kesimpulan yang tidak tepat. Mari kita lihat …

Ayat 10, 14

Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.”

Kemudian perhatikan bagaimana Tuhan merespon jawaban Elia tadi …Ayat 15-16

Firman TUHAN kepadanya: “Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram. uga Yehu, cucu Nimsi, haruslah kauurapi menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engkau.

Apa yang terjadi??
Elia merasa dia sendirian dalam menghadapi masalahnya itu! Akan tetapi satu hal yang Elia lupakan adalah fakta bahwa dia ternyata tidaklah sendirian! Ada orang-orang yang siap membantunya untuk menyelesaikan masalah itu … dan lebih dari semuanya adalah ada Tuhan yang siap untuk menolong dia!

Saya pernah mendengar cerita tentang 2 orang ibu yang pulang dari pasar sama-sama, di jalan satu ibu cerita tentang pergumulannya … Setelah mendengar cerita itu, ibu yang satu lagi lalu berkata: “Sabar ya bu … Tuhan pasti menolong ibu .. ” Mendengar hal itu ibu tadi langsung balikin: “Ibu gak tahu sih apa yang saya rasakan sekarang ini!!”

Diam sesaat .. ibu yang satu lagi itu mulai menceritakan tentang pergumulan dalam kehidupannya ..

Selesai ibu itu bercerita … si ibu yang ‘ngeyel’ tadi langsung berkata:

“Hah .. yang bener nih bu … masa sih ibu bergumul seberat itu?? Kok gak keliatan yah … ibu kelihatannya sukacita, ceria selalu … ternyata ibu memiliki beban yang berat seperti yang ibu cerita tadi …”

Apa yang membedakan dua orang ibu yang sedang sharing tadi???
“Perasaan bahwa dia melalui masalah itu tidak pernah sendirian”

Dalam hidup bergereja … kita akan sangat mungkin merasakan bahwa kita ini ternyata tidaklah pernah sendirian dalam menghadapi permasalan-permasalahan kita …

Misal: saya punya masalah “A”
Kemungkinan besar di jemaat kita ini juga ada jemaat yang pernah menghadapi masalah “A” dan mereka telah mengalahkan masalah “A” itu.

Itu artinya:
Saya bisa dikuatkan untuk tetap melanjutkan kehidupan saya dan percaya bahwa saya bisa juga mengalahkan masalah “A” itu .. ketika kita saling share bersama, saling menolong, menguatkan dan membangun iman kita di dalam persekutuan kita!

Itu baru orang lho … mereka bisa menguatkan kehidupan kita melalui kesaksian kehidupan mereka melampaui masalah yang pernah mereka hadapi waktu itu …

Bagaimana dengan Tuhan? Kalau orang aja bisa se-menguatkan itu dalam kehidupan kita,Apalagi Tuhan kita yang LUARBIASA….!!!??

Belajar dari Kejatuhan dan Depresi Nabi Elia (1 Raja-raja 19:1-18)


I. Kejatuhan Elia.

1. Ahab dan Izebel (ay 1-2).

a. Ahab menceritakan kepada Izebel apa yang Elia lakukan, bukan apa yang Allah lakukan (ay 1). Ini cara orang kafir melakukan sharing. Misalnya: pendeta itu menyembuhkan aku.

b. Reaksi Izebel (ay 2).

      • Ay 2: ‘para allah menghukum’.

Untuk ‘para allah’ (yang jelas menunjuk kepada dewa-dewa dari Izebel) digunakan kata bentuk jamak ELOHIM, dan untuk ‘menghukum’ (lit: ‘memperlakukan’) juga digunakan kata kerja bentuk jamak.

Ini kontras dengan bagian Kitab Suci yang menunjuk kepada Allah. Misalnya Kej 1:1 – ‘Allah menciptakan’. Untuk ‘Allah’ digunakan kata bentuk jamak ELOHIM, sedangkan untuk ‘menciptakan’ digunakan kata BARA, yang adalah kata kerja bentuk tunggal. Ini merupakan salah satu dasar dari doktrin Allah Tritunggal.

      • Izebel tidak putus asa dengan kegagalan / kekalahan nabi-nabi Baal, tetapi ia bahkan menjadi makin berkobar-kobar. Tetapi justru Elianyalah yang lalu menjadi putus asa!
      • Izebel mengirim seorang suruhan untuk memberitahu Elia. Ini menunjukkan keyakinannya untuk bisa membunuh Elia. Tetapi ternyata ia gagal, dan ini menunjukkan bahwa hidup atau mati ada di tangan Tuhan (bdk. Mat 10:28-30).

c. Ahab lagi-lagi mendiamkan Izebel bertindak semaunya.

Ahab dan Izebel merupakan teladan jelek bagi suami istri. Istri, jangan tiru Izebel; suami, jangan tiru Ahab (bdk. Ef 5:22-24).
2. Reaksi Elia (ay 3-4).

a. Elia takut?

Ay 3: ‘Maka takutlah ia, …’.

KJV/ASV: ‘And when he saw (= Dan ketika ia melihat).

NIV: ‘Elijah was afraid’ (= Elia takut).

Footnote NIV: ‘Elijah saw’ (= Elia melihat).

Beberapa penafsir memilih terjemahan ‘melihat’ ini karena mereka tidak mau menerima bahwa Elia takut. Kalau ia memang takut mati, mengapa dalam ay 4 justru minta mati? Mereka menganggap bahwa Elia lari bukan karena takut tetapi karena merasa gagal.

Tetapi banyak penafsir yang menganggap Elia memang takut, dan karenanya ia lalu lari menyelamatkan nyawanya.

Kalau Elia memang takut, maka ini menunjukkan bahwa ia tidak belajar dari pengalamannya, karena selama 3 1/2 tahun ia dilindungi oleh Tuhan. Tetapi bukankah kita juga sering seperti itu? Selama ini kita dipelihara oleh Tuhan, tetapi terus kuatir pada saat krisis ekonomi!

Rasa takut Elia menunjukkan bahwa ia cuma manusia biasa seperti kita (bdk. Yak 5:17). Seharusnya Elia berkata seperti Nehemia dalam Neh 6:11.

b. Elia lari ke Bersyeba, dan lalu ke padang gurun (ay 3-4).

      • Bersyeba terletak pada batas selatan dari Palestina.

Ini terletak di luar wilayah Israel / kekuasaan Ahab, tetapi termasuk wilayah Yehuda sehingga ada di bawah kekuasaan raja Yehuda yaitu Yosafat. Tetapi Yosafat mempunyai hubungan baik dengan Ahab. Ini terlihat dari:

  • 1Raja 22:4 – Yosafat mengajak Ahab berperang melawan Ramot-Gilead.
  • 2Raja 8:18 – Yosafat hidup jahat dan ia adalah menantu Ahab.
  • 2Taw 18:1 – Yosafat adalah besan Ahab. Ini salah terjemahan.

NIV: ‘he allied himself with Ahab by marriage’ (= ia menyekutukan dirinya sendiri dengan Ahab melalui perkawinan).

Karena itu Elia masih merasa tidak aman di wilayah Yehuda, dan ia lalu lari terus ke gurun (ay 3b-4).

      • Kesalahan Elia di sini adalah bahwa ia tidak minta petunjuk Tuhan! Baik pada waktu di Yizreel maupun di Bersyeba, ia tidak meminta petunjuk / pimpinan Tuhan. Juga ia meninggalkan pelayanan tanpa permisi kepada Tuhan. Ini seperti pembantu yang lalu ngeloyor pergi meninggalkan pekerjaannya, tanpa permisi kepada majikannya. Kalau saudara jadi majikannya, apa saudara tidak marah? Kalau ya, jangan jadi pelayan seperti itu! Bdk. 17:2,8 18:1 dimana ia bertindak setelah mendapat Firman Tuhan.

c. Elia minta mati (ay 4b).

      • Komentar tentang permintaan Elia untuk mati.

Pulpit Commentary: “How completely he is the sport of circumstances; how full of contradictions his conduct. At one moment he flees for his life; at the next he requests for himself that he may die. ‘Doth he wish to be rid of his life because he feared to lose it?’ (Hall) Yesterday strong in faith, fearing neither man nor devil; today trembling before a woman, wretched and despairing” [= Betapa sepenuhnya ia menjadi permainan dari keadaan; betapa penuh dengan kontradiksinya tindakannya. Pada satu saat ia lari untuk nyawanya; pada saat selanjutnya ia memohon supaya ia boleh mati. ‘Apakah ia ingin membuang / kehilangan nyawanya karena ia takut kehilangan nyawanya?’ (Hall). Kemarin kuat dalam iman, tidak takut kepada manusia maupun setan; hari ini gemetar di hadapan seorang perempuan, sangat sedih dan putus asa] – hal 466.

Pulpit Commentary mengutip kata-kata Kitto:

“Strange contradiction! Here the man who was destined not to taste of death, flees from death on the one hand and seeks it on the other” (= Kontradiksi yang aneh! Di sinilah seseorang yang ditakdirkan untuk tidak merasakan kematian, melarikan diri dari kematian di satu pihak dan mencarinya di pihak yang lain) – hal 459.

Pulpit Commentary: “We are not fittest for heaven when we are most tired of earth” (= Kita bukannya paling cocok untuk surga pada waktu kita paling bosan terhadap dunia) – hal 480.

      • Ini menunjukkan bahwa Elia mengalami depresi yang sangat dalam. Tetapi apa penyebab depresi Elia ini?
        • perasaan gagal dalam pelayanan.

Ay 10,14: orang yang mempunyai semangat yang hebat adalah yang paling mudah mengalami depresi pada waktu mengalami kegagalan. Seharusnya Elia ingat bahwa “God does not call us to be successful, but to be faithful” (= Allah tidak memanggil kita untuk sukses, tetapi untuk setia).

  • kelelahan / kelemahan fisik.

Ia lari menempuh jarak Yizreel – Bersyeba, yaitu sekitar 95 mil / lebih dari 150 km, dan masih ditambah lagi sehari perjalanan ke padang gurun (ay 4a). Ini membuat ia mengalami kelelahan yang luar biasa, ditambah lagi ia mengalami kelaparan (ini terlihat dari ay 5-7 dimana Tuhan menanganinya bukan hanya dengan memberinya istirahat / tidur, tetapi juga dengan memberinya makan). Kelelahan dan kelemahan fisik ini bisa menyebabkan / menambah depresi.

Pulpit Commentary: “The relation that exists between the state of the body and the state of the mind is very mysterious, but very real. The elation or depression of our religious feeling depends far more on mere physical conditions than we often imagine” (= Hubungan yang ada antara keadaan tubuh dan keadaan jiwa adalah sangat misterius, tetapi sangat nyata. Perasaan agamawi berupa kegembiraan atau depresi tergantung pada kondisi fisik jauh lebih banyak dari yang sering kita bayangkan) – hal 474.

Karena itu dalam keadaan depresi, sekalipun olah raga adalah sesuatu yang baik, tetapi jangan melakukannya secara berlebihan, karena setelah itu bisa bahkan menambah depresi itu.

Ini juga menunjukkan bahwa orang kristen wajib memelihara kesehatan fisik, karena kalau kesehatan fisik tidak baik, itu juga bisa menimbulkan / menambah depresi.

Pulpit Commentary: “The neglect of sanitary laws is a sin” (= Pengabaian hukum-hukum kesehatan adalah suatu dosa) – hal 477.

  • penderitaan lain: kepanasan.

Ay 4: ‘lalu duduk di bawah sebuah pohon arar’.

Dalam Interlinear Greek – English diterjemahkan ‘broom-tree’ (= pohon sapu).

Pulpit Commentary: “His sitting under the ‘juniper’ is mentioned, not to suggest that he derived comfort from an ample shade, but rather to show how little shelter he could find. The word (mem-taw-resh) is construed as in the text by the Hebrews, by Jerome, and the Vulgate; yet it is rather the genista (broom), a shrub with yellow flowers which grows in the desert, and which has its name (from mem-taw-resh to bind) from the toughness or tenacity of its twigs, which were used for withes. Not only was he wayworn with his journey and exposure to the sun, …” [= Duduknya ia di bawah ‘pohon arar’ disebutkan bukan untuk menunjukkan bahwa ia mendapatkan kesenangan / bantuan dari bayang-bayang yang cukup, tetapi sebaliknya untuk menunjukkan betapa sedikitnya naungan yang bisa ia dapatkan. Kata (mem-taw-resh) ditafsirkan seperti dalam text oleh orang-orang Ibrani, oleh Jerome, dan Vulgate; tetapi itu sebetulnya adalah genista (sapu), semak dengan bunga berwarna kuning yang tumbuh di gurun, dan yang mendapatkan namanya (dari mem-taw-resh mengikat) dari kekuatan atau keuletan dari ranting-rantingnya, yang digunakan untuk pengikat. Bukan saja ia sangat lelah karena perjalanannya dan kepanasan karena matahari, …] – hal 471.

  • dosa, dimana ia meninggalkan tempat / pelayanan tanpa ijin Tuhan.

Pulpit Commentary: “his despondency deepened as he lost himself in the solitudes of wilderness. His was the inward disquietude which will always be the penalty of a man’s having weakly or wilfully deserted the path of duty. When good men place themselves in a false position, they must expect the shadow of some morbid condition of feeling to fall upon their spirit. When the hands of those who ought to be busy about some work for God are idle, their hearts are left a prey to all sorts of evil influences. Religious activity is one of the main secrets of religious health” (= keputusasaannya makin mendalam pada waktu ia menyembunyikan dirinya sendiri dalam kesunyian padang gurun. Ia mengalami ketidaktenangan batin yang selalu merupakan hukuman bagi orang yang meninggalkan kewajiban baik karena kelemahan maupun karena sengaja. Pada saat orang yang saleh menempatkan dirinya pada posisi yang salah, mereka harus mengharapkan bayangan dari kondisi yang tak sehat dari perasaan untuk jatuh pada roh mereka. Pada waktu tangan mereka yang seharusnya sibuk dengan pekerjaan untuk Allah menjadi malas, hati mereka ditinggalkan sebagai mangsa dari segala macam pengaruh jahat. Aktivitas agama / rohani merupakan salah satu dari rahasia utama kesehatan agama / rohani) – hal 475.

Penerapan: kalau orang yang tadinya melayani lalu berhenti dari pelayanan bisa mengalami kejatuhan rohani / depresi, bagaimana dengan orang yang tidak pernah mau melayani? Karena itu selalulah berusaha supaya saudara bisa berguna untuk Tuhan!

  • kesepian.

Mungkin depresi yang dialami Elia juga disebabkan atau diperparah oleh kesepian / kesendirian. Bdk. Ay 10,14 – ‘hanya aku seorang dirilah yang masih hidup’. Bdk. Ibr 10:25.

      • Mengapa Tuhan membiarkan Elia jatuh seperti ini?
        • Untuk menunjukkan bahwa manusia yang terhebatpun akan hancur kalau Tuhan tidak menolongnya.

Pulpit Commentary: “So unstable are the grandest forms of human virtue, and so weak are the noblest of men when God is pleased for a while to leave them to themselves” (= Begitu tidak stabil bentuk yang teragung dari kebaikan / sifat baik manusia, dan begitu lemah manusia yang paling mulia pada waktu Allah berkenan untuk sementara waktu meninggalkan mereka pada diri mereka sendiri) – hal 474.

Karena itu selalulah bersandar kepada Tuhan!

  • Mungkin supaya Elia tetap sadar akan kelemahannya dan tidak menjadi sombong (bdk. 2Kor 12:7-10). Atau bahkan mungkin untuk mempertobatkan Elia dari kesombongannya, karena kata-katanya dalam ay 4b – ‘sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku’ – sudah menunjukkan kesombongan karena tadinya ia menganggap dirinya lebih baik dari nenek moyangnya.

II. Pengobatan Tuhan.

1. Memberi istirahat, makan, dan minum, dan semua ini memberi Elia kekuatan (ay 5-8).

a. Dalam ay 5-8 Tuhan memberi tidur, makan dan minum kepada Elia.

Tuhan tahu bahwa salah satu penyebab depresinya adalah kelelahan dan kelemahan fisik, karena lari dari Yizreel ke Bersyeba dan lalu ke padang gurun, tanpa makanan ataupun minuman. Karena itu sekarang Tuhan menangani kelelahan fisik ini melalui pemberian istirahat, makanan dan minuman.

Pulpit Commentary: “The disease of the mind is to be cured by first removing the weakness of the body, which was one of its causes. It is a suggestive incident. Our physical nature is as truly an object of Divine thought and care as the spiritual” (= Penyakit pikiran disembuhkan dengan pertama-tama membuang kelemahan tubuh, yang merupakan salah satu penyebabnya. Ini merupakan peristiwa yang memberikan suatu gagasan. Tubuh / fisik kita merupakan obyek pemikiran dan pemeliharaan ilahi sama seperti rohani kita) – hal 475.

Penerapan: jangan kuatir terhadap krisis ekonomi, harga barang-barang dan makanan yang naik, dsb, karena Tuhan memperhatikan jasmani kita! Bdk. Mat 6:25-34 Mat 15:32.

b. Ini menunjukkan bahwa ketidak-sabaran, ketidak-percayaan dan ke-tidak-setiaan Elia, tidak membuang / mengurangi perhatian dan kasih Allah kepadanya! Bdk. Maz 103:14.

c. Kitab Suci sering menceritakan pemberian makan secara mujijat.

      • Israel mendapat manna selama 40 tahun dan juga burung puyuh (Kel 16:13-35 Bil 11:31–32 Ul 8:3,4,16).
      • Elia dan janda miskin serta anaknya diberi makan secara mujijat dengan tepung dan minyak yang tidak habis-habisnya (1Raja 17:14-16).
      • Elisa memberi makan 100 orang (2Raja 4:42-44).
      • Yesus memberi makan 5000 orang (Mat 14:15-21 Mark 6:35-44 Luk 9:12-17 Yoh 6:1-15).
      • Yesus memberi makan 4000 orang (Mat 15:32-38 Mark 8:1-10).
      • Yesus diberi makan di padang gurun (Mat 4:11).

Dari semua ini jelas bahwa manusia tidak hidup dari roti saja, tetapi dari kehendak Tuhan! Mat 4:4 Ul 8:3.

d. Oleh kekuatan makanan itu Elia berjalan 40 hari 40 malam ke gunung Horeb (ay 8).

      • Jarak Bersyeba – Horeb ada yang mengatakan 150 mil, ada yang mengatakan 130 mil, tetapi di peta 200 mil.
      • Elia puasa 40 hari 40 malam. Orang lain yang melakukan hal ini adalah Musa (Kel 34:28) dan Yesus (Mat 4:2), dan ketiga orang ini bertemu di puncak gunung waktu Yesus dimuliakan (Mat 17:3).

2. Pertemuan Elia dengan Tuhan (ay 9-14).

a. Ay 9b,13b: ‘Apakah kerjamu di sini, hai Elia?’.

NIV: “What are you doing here, Elijah?” (= Apa yang sedang engkau lakukan di sini Elia?).

Ay 9b,13b ini sekalipun lembut tetapi tetap merupakan teguran. Pertanyaan ini secara implicit juga menunjukkan bahwa Elia bisa lebih berguna di tempat lain.

Pulpit Commentary: “Wherever we are it behoves us to ask ourselves what business we have here. Everywhere our first business is to glorify God” (= Dimanapun kita berada kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri apa yang kita lakukan di sini. Dimanapun, urusan pertama kita adalah memuliakan Allah) – hal 471. Bdk. 1Kor 10:31.

b. Ay 10,14 (NIV): “I have been very zealous for the LORD God Almighty” (= Aku telah sangat bersemangat untuk TUHAN Allah yang maha-kuasa).

Tuhan menanyakan apa yang sedang ia lakukan saat itu, tetapi Elia menjawab tentang apa yang ia lakukan dahulu. Banyak orang kristen yang kalau mendapat pertanyaan serupa, juga menjawab seperti Elia: ‘Dulu aku guru sekolah minggu’. ‘Dulu aku majelis’. Dsb.

Jawaban Elia dalam ay 10,14 itu sudah menunjukkan bahwa ia salah karena pada saat itu tidak melakukan apa-apa. Tetapi ada banyak jemaat / orang kristen yang bahkan menjawab seperti Elia saja tidak dapat, karena mereka tidak pernah melakukan pekerjaan / pelayanan apa-apa.

c. Ay 10,14: ‘orang Israel meninggalkan perjanjianMu, meruntuhkan mezbah-mezbahMu dan membunuh nabi-nabiMu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku’.

      • Ini menunjukkan bahwa Elia berbicara negatif tentang Israel.

Pulpit Commentary: “The motive of his intercession to God against Israel is not personal revenge, but zeal for Jehovah. And though we are bound, as Christians, to love our enemies, that does not say that we are to love the enemies of God. There is spurious charity in high favour which the Scriptures do not sanction” [= Motivasi dari doa syafaatnya kepada Allah menentang Israel bukanlah balas dendam pribadi, tetapi semangatnya untuk Yehovah. Dan sekalipun sebagai orang kristen kita harus mengasihi musuh kita, itu tidak berarti bahwa kita harus mengasihi musuh Allah. Ada kasih yang palsu yang disenangi banyak orang yang tidak diperintahkan oleh Kitab Suci] – hal 472.

Sebagai dukungan terhadap kutipan di atas, bacalah 2 ayat di bawah ini:

  • 2Taw 19:2b – “Sewajarnyakah engkau menolong orang fasik dan bersahabat dengan mereka yang membenci TUHAN? Karena hal itu TUHAN murka terhadap engkau”.
  • Maz 139:21-22 – “Masakan aku tidak membenci orang-orang yang membenci Engkau, ya TUHAN, dan tidak merasa jemu kepada orang-orang yang bangkit melawan Engkau? Aku sama sekali membenci mereka, mereka menjadi musuhku”.
      • Ini menunjukkan bahwa Elia merasa bahwa pelayanannya tidak berbuah.

Pulpit Commentary: “We know that no work, really and truly done for God, can be wasted (Isa. 55:11); but we are often tempted to think it is. … it is for our comfort to remember, in times of depression, that the greatest of the prophets saw little or no fruit of his labours” [= Kita tahu bahwa tidak ada pekerjaan, yang sungguh-sungguh dan betul-betul dilakukan bagi Allah, bisa sia-sia (Yes 55:11); tetapi kita sering dicobai untuk berpikir demikian. … merupakan sesuatu yang menghibur kita untuk mengingat pada masa depresi bahwa nabi yang terbesar melihat sedikit atau tidak ada buah dari jerih-payahnya] – hal 391.

d. Ay 11: “Lalu firmanNya: ‘Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!’. Maka TUHAN lalu!”.

NASB, KJV, RSV seperti KS Indonesia.

NIV: “The LORD said, ‘Go out and stand on the mountain in the presence of the LORD, for the LORD is about to pass by’” (= TUHAN berkata: ‘Keluarlah dan berdirilah di atas gunung itu di hadapan TUHAN, karena TUHAN akan lalu / lewat’).

e. Ay 11-12: Tuhan tidak ada dalam angin besar dan kuat, gempa maupun api, tetapi ada dalam ‘angin sepoi-sepoi basa’.

NIV: ‘a gentle whisper’ (= suatu bisikan yang lembut).

Apa arti semua ini?

Keil & Delitzsch kutip Herder:

“The design of the vision was to show to the fiery zeal of the prophet, who wanted to reform everything by means of the tempest, the gentle way which God pursues, and to proclaim the long-suffering and mildness of His nature, …” (= Tujuan dari penglihatan itu adalah menunjukkan kepada semangat yang berapi-api dari sang nabi, yang ingin mereformasi segala sesuatu dengan menggunakan badai, cara yang lembut yang ditempuh Allah, dan menyatakan sifatNya yang panjang sabar dan halus / lembut, …) – hal 258.

Keil & Delitzsch: “But now the Lord was not in these terrible phenomena; to signify to the prophet that He did not work in His earthly kingdom with the destroying zeal of wrath, or with the pitiless severity of judgment” (= Tetapi Tuhan tidak ada dalam kejadian alam yang mengerikan ini; menunjukkan kepada sang nabi bahwa Ia tidak bekerja dalam Kerajaan duniawiNya dengan semangat kemarahan yang menghancurkan, atau dengan kekerasan penghakiman yang tidak berbelas kasihan) – hal 258.

Saya berpendapat bahwa penafsiran di atas ini sangat meragukan karena:

      • Ay 11-12 menunjukkan sikap Tuhan kepada Elia, bukan kepada Israel / Ahab / Izebel.
      • Ay 15-17 menunjukkan Tuhan akan menghukum Israel.
      • Dialog Tuhan – Elia dalam ay 13-18 sedikitpun tidak menyinggung hal ini.
      • pelayanan / sikap Elia sesudah ini tidak berubah dari sebelumnya, misalnya lihat 1Raja-raja 21:17-dst 2Raja-raja 1:1-18.

Saya berpendapat bahwa semua ini menunjukkan sikap Allah terhadap Elia. Sekalipun Elia salah / jatuh, tetapi Tuhan tetap tidak datang kepadanya dalam gempa, angin atau api, yang semuanya merupakan simbol hukuman Tuhan (Maz 18:8-15), tetapi Tuhan datang dalam kelembutan dan kasih.

Penerapan: ini juga berlaku bagi diri saudara. Asal saudara betul-betul adalah seorang anak Allah, maka pada saat saudara jatuh ke dalam dosa, janganlah membayangkan bahwa Allah murka kepada saudara (kecuali kalau saudara dengan sikap tegar tengkuk tidak mau bertobat dari dosa itu). Karena adanya penebusan Yesus Kristus, Tuhan selalu menghadapi saudara dengan kasih dan kelembutan seorang Bapa kepada anakNya. Bdk. Maz 103:8-14 – “TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukanNya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalasNya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setiaNya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkanNya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu”.
3. Koreksi terhadap Elia (ay 15-18).

a. Ay 15: ‘Pergilah, kembalilah’.

Ini harus dilakukan oleh setiap orang yang meninggalkan pelayanan tanpa ijin Tuhan!

Dalam Pulpit Commentary (hal 469) diceritakan sebuah dongeng tentang rasul Tomas. Dikatakan bahwa suatu hari Tomas kembali ragu-ragu akan kebangkitan Yesus. Ia lalu mencari rasul-rasul yang lain, dan mulai menceritakan keragu-raguannya itu. Tetapi semua rasul itu memandangnya dengan heran, dan lalu menjawab bahwa mereka menyesal atas apa yang Tomas alami itu, tetapi mereka begitu sibuk dalam pelayanan sehingga tidak punya waktu untuk mendengarkan cerita Tomas itu lebih lanjut. Tomas lalu mencari perempuan-perempuan pengikut Yesus, dan lalu mulai menceritakan keragu-raguannya kepada mereka. Tetapi perempuan-perempuan itu bereaksi secara sama dengan rasul-rasul tadi. Akhirnya Tomas merenung, dan lalu berpikir bahwa mungkin karena mereka begitu sibuk dalam pelayanan, maka mereka bebas dari keragu-raguan itu. Ia lalu pegi ke Parthia dan menyibukkan dirinya dengan pemberitaan Injil, dan sejak saat itu ia tidak pernah ragu-ragu lagi tentang kebangkitan Yesus.

Ini mungkin cuma dongeng, tetapi ada kebenarannya yaitu: pelayanan menguatkan iman, tidak melayani merusak iman!

Dan satu hal lain yang harus diperhatikan adalah bahwa Tuhan mengobati orang yang depresi dengan menyuruhnya melakukan pelayanan!

b. Ay 15-17 menunjukkan pelayanan yang Tuhan kehendaki dari Elia.

Ini merupakan ayat sukar, karena Elisa, Yehu dan Hazael tidak diurapi oleh Elia.

      • Elisa memang menggantikan Elia tetapi tidak diurapi oleh Elia.
      • Yehu diurapi, tetapi bukan oleh Elia ataupun Elisa tetapi oleh nabi muda yang disuruh oleh Elisa (2Raja 9:1,6).
      • Hazael dinubuatkan menjadi raja oleh Elisa tetapi tidak diurapi (2Raja 8:7-15).

Mungkin ‘urapi’ di sini harus diartikan ‘appoint’ (= menunjuk / menentukan / mengangkat), atau seperti kata-kata Adam Clarke: “it is probable that the word ‘anoint’, here signifies no more than ‘the call to the office’” (= adalah mungkin bahwa kata ‘mengurapi’, di sini berarti tidak lebih dari ‘panggilan untuk jabatan’) – hal 464.

Alasan pandangan ini:

      • tidak pernah ada cerita pengurapan atas nabi. Tetapi bdk. 1Taw 16:22 Maz 105:15.
      • Elia bisa mengurapi Elisa tetapi tetap tidak melakukannya.

Penggenapan nubuat ini dalam diri Hazael, Yehu dan Elisa.

      • Tentang Hazael lihat 2Raja 8:12 10:32 13:3,22.
      • Yehu menjadi raja atas Israel. Ini memastikan jatuhnya Ahab dan Izebel (bdk. 2Raja 9:24-33 10:1-28).
      • ‘dibunuh oleh Elisa’ (ay 17) tidak boleh diartikan hurufiah. Bdk. Hos 6:5 – “Sebab itu Aku telah meremukkan mereka dengan perantaraan nabi-nabi, Aku telah membunuh mereka dengan perkataan mulutKu, dan hukumKu keluar seperti terang”.

Ay 15-17 dikatakan oleh Tuhan bukan hanya untuk menunjukkan pelayanan yang Ia kehendaki dari Elia, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa Ia akan menghukum Israel / Ahab / Izebel (ini nyata terlihat dari pengangkatan Yehu menjadi raja Israel). Ini merupakan penghiburan bagi Elia karena ini menunjukkan bahwa Allah tidak akan membiarkan terus menerus dosa Ahab dan Izebel.

c. Ay 18:

      • Tense dari ay 18.

‘Aku akan meninggalkan’ (= RSV/NASB).

NIV: Yet I reserve 7000 … (= Tetapi Aku menyimpan / menjaga 7000 …).

KJV: Yet I have left me … (= Tetapi Aku telah meninggalkan untukKu …).

Bandingkan dengan Ro 11:4 yang mengutip 1Raja 19:18 ini.

Ro 11:2b-4 – “Ataukah kamu tidak tahu, apa yang dikatakan Kitab Suci tentang Elia, waktu ia mengadukan Israel kepada Allah: ‘Tuhan, nabi-nabiMu telah mereka bunuh, mezbah-mezbahMu telah mereka runtuhkan; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.’ Tetapi bagaimanakah firman Allah kepadanya? ‘Aku masih meninggalkan tujuh ribu orang bagiKu, yang tidak pernah sujud menyembah Baal.’“.

Catatan: Untuk Ro 11:4 ini semua Kitab Suci bahasa Inggris menterjemahkan ke dalam past tense / bentuk lampau.

      • Ay 18 akhir: ‘dan yang mulutnya tidak mencium dia’.

Memang orang-orang kafir yang menyembah berhala sering melakukan praktek penciuman terhadap patung berhala mereka. Bdk. Ayub 31:26-27 – kecupan tangan terhadap matahari. Hos 13:2 – mencium anak lembu.

Bandingkan ini dengan praktek mencium patung dalam Gereja Roma Katolik.

      • Kata ‘Aku’ dalam ay 18 menunjukkan bahwa adanya ‘remnant’ (= sisa) yang setia kepada Tuhan merupakan pekerjaan Allah sendiri. Bdk. Ro 11:5-6 – “Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia. Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia”.
      • Ay 18 ini diucapkan Tuhan untuk menunjukkan bahwa pelayanan Elia tidak sia-sia, dan bahwa kata-kata Elia dalam ay 10,14 tidak benar. Memang depresi membuat segala sesuatu terlihat lebih gelap dari yang sebenarnya.

Penutup.

Sesuatu yang luar biasa dari Elia adalah bahwa ia lalu taat kepada perintah Tuhan dan ia kembali melakukan pelayanan (ay 19-21). Dan justru semua itu mengangkat dia dari kejatuhannya / depresinya.

Kiranya seluruh pelajaran ini bisa menolong saudara kalau sedang mengalami depresi / kejatuhan rohani seperti Elia!

-AMIN-

Source : http://www.members.tripod.com/gkri_exodus/p_elia06.htm