Pesan Kasih Natal


Matius 9:9

“Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.”

Bagaimana kita menanggapi orang yang bagi dunia sudah dianggap terhilang? Ada banyak orang yang seperti itu. Bagi dunia mereka hanya dianggap sampah masyarakat, orang dari kelompok yang berlumur dosa, orang-orang yang tidak mendapat tempat dalam masyarakat, bahkan seringkali mereka ini dihujat, dihina atau dipukuli seenaknya oleh sekelompok orang yang menganggap dirinya paling suci dan bersih di muka bumi ini. Di gereja kita pun tidak menutup kemungkinan ada orang-orang yang mungkin kita ketahui belum lurus-lurus benar hidupnya. Mereka masih banyak melakukan kesalahan yang nyata terlihat di mata orang banyak. Bagaimana kita menghadapi mereka? Apakah bergunjing, bersikap sinis, membuang muka atau mengelak dan membiarkan mereka sendirian, atau kita mengulurkan tangan persaudaraan dan berusaha membantu mereka untuk bisa mengenal Kristus dan meneladaniNya dalam kehidupan mereka secara benar? Ada banyak orang yang memilih alternatif pertama, yaitu bersikap memusuhi. Ada banyak gereja bukan lagi tempat bersahabat untuk menjangkau jiwa terhilang, tetapi sudah menjadi sebuah komunitas dimana isinya orang-orang yang merasa paling benar dan punya hak untuk menghakimi.Jika Yesus yang bertahta di dalam gereja itu masih ada di dunia dan sedang duduk disana, akankah Yesus bersikap memusuhi? Pasti tidak. Saya yakin 100% Yesus akan menghampiri, menyambut dan memeluk mereka mengajak untuk bertobat.

Dalam banyak kesempatan di dalam Alkitab kita bisa menemukan fakta bagaimana Yesus memperlakukan orang-orang berdosa ini. Tuhan membenci dosa, tetapi Dia tidak membenci orang berdosa. Bahkan di antara murid-muridNya ada satu yang berasal dari kelompok hina di mata masyarakat, dari kelompok pemungut cukai yang namanya sangat terkenal, yaitu Matius.

Matius awalnya bukanlah orang yang baik di mata masyarakat. Profesinya adalah sebagai pemungut cukai. Artinya ia bekerja untuk kepentingan Roma, bangsa penjajah. Pemungut cukai digolongkan ke dalam orang berdosa pada masa itu dan dikucilkan masyarakat karena dianggap musuh. Pada suatu hari Yesus bertemu dengan Matius.“Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.” (Matius 9:9). Yesus tidak melewatkan Matius begitu saja. Dia orang berdosa, ia adalah musuh orang Yahudi. Tapi lihatlah bahwa Yesus tidak melewatinya apalagi memusuhi tapi malah menghampiri Matius dan mengajaknya ikut. Lalu kita tahu bahwa Matius memilih untuk berdiri dan mengikut Yesus. Sebuah pilihan yang sangat tepat. Yesus berkunjung dan makan di rumah Matius. Lihatlah saat itu ternyata kedatangan Yesus berkunjung ke rumah Matius terdengar oleh pemungut cukai dan orang-orang berdosa di mata masyarakat lainnya. Mereka pun berbondong-bondong datang. Mumpung Yesus berada di rumah salah seorang dari mereka, mungkin itu yang mereka pikirkan. Dari satu kemudian berkembang menjadi banyak. Orang Farisi pun kaget melihat itu dan segera bertanya kepada para murid, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (ay 11). Yesus ternyata mendengar itu dan kemudian berkata: “Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (ay 12-13). Jawaban ini sesungguhnya jelas menggambarkan seperti apa hati Yesus itu. Yesus menyatakan bahwa tugasNya ke dunia ini adalah untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Meski hanya satu jiwa saja, itupun berharga bagiNya. Kita tahu apa yang terjadi kemudian. Matius bertobat dan menjadi murid Yesus. Tidak hanya murid biasa, tapi ia pun termasuk dalam satu dari empat penulis Injil yang bisa kita baca hingga hari ini. Itu semua bermula ketika Yesus tidak memandang jumlah dan mau repot-repot mengurusi orang berdosa, bahkan satu orang saja sekalipun.

Satu orang, sepuluh, seratus, seribu, itu tidaklah masalah di mata Tuhan. Semakin banyak semakin baik, tetapi satu pun tetap penting di mata Tuhan untuk diselamatkan. Yesus sendiri berkata: “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?” (Lukas 15:4). Satu jiwa sekalipun itu berharga di mata Tuhan, dan Dia tidak menimbang-nimbang sebesar apa dosa yang pernah kita lakukan. Datang kepadaNya mengikuti panggilanNya dengan hati yang sungguh-sungguh akan selalu Dia sambut dengan penuh sukacita.

Tuhan tidak pernah membenci orang berdosa. Dia bahkan mau bersikap proaktif untuk mendatangi dan menjangkau orang per orang. Bukankah Yesus pun datang untuk menyelamatkan domba-domba yang hilang? Selalu terbuka kesempatan bagi siapapun untuk bertobat, kembali kepadaNya dan dilayakkan untuk masuk ke dalam kehidupan kekal yang penuh dengan sukacita. Jika Tuhan seperti itu, mengapa kita sebagai manusia malah tega menghakimi dan menganggap diri kita berhak untuk itu? Mari teladani Yesus lewat sikap, tindakan dan perbuatan kita. Jangkaulah jiwa-jiwa terhilang, jangan musuhi dan abaikan mereka, karena Yesus pun akan berbuat tepat seperti itu.

Yesus mengasihi manusia tanpa memandang berat ringannya dosa dan menawarkan keselamatan kepada semuanya.

In this Christmas season Jesus says to you :For I did not come to call the righteous, but sinners to repent, and I has come to save that whom was lost. I love you, just the way you are!

Inilah penyataan Kasih itu:

Sebab Yesus Kristus datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa untuk bertobat, dan Dia datang untuk menyelamatkan yang terhilang.

Yesus Kristus mengasihimu apa adanya!

bahasa cinta yesus

Hubungan Horizontal di dalam Kristus


Pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib membelah tabir pemisah antara manusia dan Allah. Betapa Allah rindu akan pulihnya suatu hubungan. Allah adalah Kesatuan yang sempurna yang merupakan Kasih.

Matius 5:22-24

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Berdasarkan ayat di atas, hubungan lebih penting dari pelayanan yang kasat mata. Allah rindu setiap umatnya dipulihkan dalam hal hubungan. Alangkah menyedihkannya jika seseorang berkata bahwa ia mengasihi Tuhan tetapi ia membenci saudaranya (1 Yohanes 4:20)

Teladan Jemaat Mula-mula dalam Perjanjian Baru

Jemaat mula-mula merupakan teladan yang luar biasa mengenai kesatuan hati (Kisah Para Rasul 2:46-47). Mereka berkumpul setiap hari dan bersatu hati. Di ayat 27, setelah dijelaskan mengenai kesatuan, ada tertulis

“..Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Artinya Allah bekerja dengan leluasa di dalam kesatuan. Dengan kata lain, Allah akan lebih mempercayakan jiwa kepada kumpulan orang-orang percaya yang bersatu hati.

Dalam 1 Tesalonika 3, Paulus rindu untuk mengunjungi jemaat-jemaat Tesalonika. Paulus adalah rasul besar di dalam alkitab. Paulus memiliki hati untuk jemaatnya. Dalam suatu hubungan, penting untuk memiliki hati untuk saudara-saudara kita. Hati inilah yang membedakan orang-orang yang sungguh-sungguh peduli dengan yang tidak. Orang yang memiliki hati untuk sesamanya tidak akan cepat menyerah, tidak turun naik dalam mengasihi, dan sabar menanggung segala sesuatu.

Paulus berkata, “Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan.” (1 Tesalonika 3:8). Paulus menyadari bahwa seorang kepala tidak bisa berbuat apa-apa tanpa tubuh. Kepala membutuhkan tubuh, begitu pun tubuh, tubuh juga membutuhkan kepala. Tidak ada yang bisa berjalan sendiri-sendiri di sini. Semuanya saling membutuhkan. Kesombonganlah yang membuat seseorang merasa kuat dan tidak butuh siapapun.

Kesatuan/kesepakatan

Kesatuan memiliki kekuatan yang luar biasa. Salah satu contohnya adalah kisah Menara Babel, dimana manusia dengan kekuatannya berusaha membuat satu bangsa dan satu bahasa (Kejadian 11). Sampai-sampai Tuhan harus turun tangan mengatasi ini, betapa dahsyatnya persatuan. Hal lain mengenai kesatuan dikemukakan Yesus di Matius 12:25-26

Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis mengusir Iblis, ia pun terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri; bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan?

Kesatuan begitu dahsyat kekuatannya dan inilah bagian yang sering diserang di Gereja Tuhan. Adanya benih perpecahan, rasa saling tidak percaya, mencurigai satu sama lain, dan kepahitan membuat Gereja tidak maksimal dalam menjalankan panggilannya. Iblis tahu di celah mana dia menyerang anak-anak Tuhan. Untuk itu, kita perlu memandang penting kesatuan Tubuh Kristus dan waspada terhadap perpecahan. Kenakanlah Kristus sebagai pengikat kita bersama.

Kesatuan itu bekerja di dalam aliran. Maksudnya, kesatuan itu dihasilkan dari kasih yang terus menerus mengalir. Jika kita mengasihi seseorang dan berharap orang itu mengasihi kita kembali, itu artinya tidak mengalir. Lepaskanlah kasih itu, alirkan dengan murah dengan tidak mengharapkan imbalannya.

Hal-hal yang berhubungan dengan hubungan dengan sesama di dalam Kristus:

1. Keterbukaan (1 Yohanes 1:7, Yakobus 5:16)

Sifat Allah adalah terang dan di dalam terang tidak ada yang tersembunyi. Keterbukaan membuka jalan untuk pemulihan. Keterbukaan dapat menutupi celah-celah yang bisa dipakai iblis untuk menyerang kita. Allah ingin anak-anak-Nya hidup di dalam terang, jujur, tulus, apa adanya, dan tidak memakai topeng.

Dalam persekutuan Kristen sejati, kita tidak perlu berusaha menutup-nutupi kekurangan-kekurangan kita. Kita dapat bersikap jujur dan terbuka karena kita berada di antara orang-orang yang juga mengalami realita pengampunan Tuhan. Secara manusiawi, tidak mudah untuk hidup jujur dan saling terbuka. Hal ini disebabkan oleh kesombongan, iri hati, kuatir, curiga dan kebencian terhadap orang lain. Hanya Roh Kudus yang dapat menolong kita hidup untuk dalam terang – Bertumbuh dalam Kristus

Tentu saja, kita tidak terbuka ke semua orang, tetapi hanya kepada orang-orang yang memiliki akuntabilitas dan tanggungjawab atas hidup kita. Dengan keterbukaan, akan terbuka jalan untuk saling mendoakan dan menjagai satu sama lain.

2. Menasihati/menegur (Matius 18:15-20)

Menasihati/menegur sesama saudara diperlukan dalam proses pertumbuhan karena di dalam sebuah proses bersama pasti terdapat gesekan (Amsal 27:17). Oleh karena itu perlu menyelesaikan persoalan hubungan dengan saudara seiman dengan mengacu pada Firman Tuhan. Prinsip Firman Tuhan adalah menegur secara empat mata pertama kali. Ketika ada persoalan dalam hal hubungan, jangan langsung di “floor” kan di forum besar supaya orang yang lemah imannya tidak menjadi tambah lemah dan tidak terjadi distorsi cerita atau gosip di pelayanan. Selain itu, bereskanlah konflik sesegera mungkin (Efesus 4:26). Sebenarnya perselisihan antara anak Tuhan adalah hal yang tidak perlu. Hal ini menghabiskan banyak energi, pikiran, dan emosi. Segeralah bereskan dan buanglah beban yang merintangi.

Kemiskinan dan cemooh menimpa orang yang mengabaikan didikan, tetapi siapa mengindahkan teguran, ia dihormati. (Amsal 13:18)

Jika kita ditegur, artinya kita dicintai. Seringkali seseorang merasa teguran itu adalah penghinaan baginya, sebetulnya tidak begitu. Respon kita jika menerima teguran seharusnya berterimakasih, tidak reaktif, dan menginginkan perbaikan diri. Jika memang ada klarifikasi, lakukanlah, dan mintalah maaf 🙂 Jika kita ingin menegur seseorang, kita harus ingat bahwa dosanyalah yang kita benci, bukan orangnya. Artinya kasihi orangnya, tetapi benci dosanya, bukan benci orangnya. Berikanlah usulan/ solusi/ perbaikan dan jangan memakai kata-kata penghakiman, seperti, “Kamu selalu… kamu tidak pernah…”

3. Pengampunan (Matius 18:21-35)

Pengampunan bukanlah hal yang sulit jika dilakukan dengan kasih karunia. Kita akan lebih mudah mengampuni jika kita tahu kita juga diampuni banyak oleh Tuhan. Kasih tidak mengingat kesalahan orang lain. Mintalah kepada Allah supaya kita memiliki hati yang luas dan mudah “melepas”. Jika ada orang yang menyakiti kita, kita tidak menyimpan kesalahannya dalam hati kita, tetapi melepaskannya. Menyimpan akar pahit kepada siapapun akan merusak kehidupan kita dan menghambat pertumbuhan kita. Hal ini bisa diibaratkan seperti layang-layang yang terbang tinggi, tetapi layang-layang ini hanya bisa pergi sebatas panjang benangnya, tidak bisa lebih jauh lagi. Akar pahit dapat menghambat rencana Tuhan dalam hidup kita dan membuat kita tidak maksimal. Percayalah firman, lakukan, berantas akar pahit, dan ambillah keputusan untuk mengampuni orang yang bersalah pada kita.

Ada hal menarik dalam cerita penangkapan Yesus di taman Getsemani. Pada waktu Yesus akan ditangkap, Petrus dengan reaktif memotong telinga Malkhus dengan pedang, kemudian Yesus menyembuhkan telinga Malkhus. Cerita ini ditulis dalam keempat Injil, artinya ada sesuatu yang mau Tuhan katakan untuk kita. Sebagian besar orang mengira dia akan pulih dari sakit hatinya kalau orang yang menyakitinya minta maaf dan melakukan setimpal dengan apa yang dia harapkan. Akibatnya kita menjadi orang yang suka menuntut dan sukar mengampuni. Tuhan berkata, terkutuklah orang yang mengandalkan manusia. Artinya kita tidak bisa mengharapkan manusia yang menjadi penyembuh luka kita. Kalau manusia bisa menyembuhkan luka, Malkhus akan datang ke Petrus dan dia akan disembuhkan. Namun pada kenyataannya Petrus tidak bisa menyembuhkan Malkhus, tetapi Yesuslah yang menyembuhkannya. Segala luka hanya bisa disembuhkan oleh Yesus, manusia tidak bisa menyembuhkannya. Kesalahan kita adalah mengharapkan orang lain untuk menjadi penyembuh luka kita. Arahkahlah pengharapan dan kesembuhan kita pada Yesus. Ketika kita melihat Yesus, kita akan dapat mengampuni dan dipulihkan.

4. Penghakiman dan Tuntutan (Matius 7:1-5)

Apa yang kita lakukan ketika saudara kita jatuh? Atau misalnya pemimpin kita jatuh ke dalam dosa? Sebagian orang akan bersikap menghakimi dan memandang sinis orang tersebut. Apa yang Allah lakukan ketika melihat anak-anak-Nya jatuh?

Penghakiman seringkali menghinggapi orang-orang yang sudah lama ikut Tuhan atau memiliki banyak pengetahuan akan Firman. Yesus melarang penghakiman, sebab kita tidak punya hak untuk menghakimi. Penghakiman erat kaitannya dengan sikap menuntut. Ada seseorang yang selalu menuntut setiap orang. Orang-orang yang suka menuntut berkata, “Harusnya dia seperti itu, seperti ini, harusnya dia tahu itu” dan sebagainya. Penghakiman dan tuntutan membuka jalan untuk kepahitan. Sadarlah bahwa di hadapan Tuhan, kita semua sama, ditebus dengan darah yang sama. Tidak ada yang lebih tinggi atau rendah daripada yang lain. Allah menerima kita apa adanya, kita pun harus menerima orang lain apa adanya. Beranilah untuk melepaskan penuntutan, dan miliki kerelaan berkorban untuk saudara seiman.

Love bears up under anything and everything that comes, is ever ready to believe the best of every person, it hopes and fadeless under all circumstances, and it endures everything [without weakening] – 1 Corinthians 13:7 Amplified Bible

Kasih adalah pengikat persatuan. Kasih percaya yang terbaik di dalam diri setiap orang. Ayat di atas adalah kasih Allah kepada kita. Dia percaya yang terbaik dari setiap kita. Jika kita mengasihi seseorang, kita akan percaya yang terbaik dari dirinya sebagaimanapun dirinya pada masa sekarang.

Be blessed. All glory and honor belong to God 🙂

Cerita pertamaku : Ciptaan Baru (Versi Indonesia)


Bagaimana Tuhan mengubah hidupku dari sia-sia menjadi mulia

Saya adalah seorang mahasiswa ITB dan sekarang sedang menjalani perkuliahan di tingkat akhir jurusan Teknik Sipil. Nama saya adalah Franklin Kesatria Zai. Saya dilahirkan di kota Medan yang indah dan latar belakang keluarga saya terkenal cukup baik dengan menganut “Agama Kristen Protestan” secara hukum.

Ayah saya menjabat sebagai penatua di gereja saya di Medan, dan sekarang juga masih menjabat sebagai penatua (Satuan Niha Keriso dalam bahasa niasnya) sejak keluarga kami pindah ke pulau Nias tahun 2002 yang lalu. Ibu saya juga terkenal cukup baik dilihat dari jabatannya sebagai wakil penatua juga di gereja sebagai pendamping dari ayah saya. Saya cukup bangga dengan keadaan keluarga saya seperti ini. Sejak kecil saya dikenal rajin pergi ke gereja tiap minggu, aktif di persekutuan, aktif mengikuti paduan suara gereja, dan segala aktifitas yang ‘berbau” rohani. Itu semuanya saya lakukan di atas semua ketidakmengertian saya, mengapa saya melakukan hal itu, dan juga hanya atas dorongan dari keluarga saya, sehingga saya melakukan itu seolah-olah aktifitas rutin saja seperti kegiatan saya sehari-hari (makan, minum, dan sebagainya). Tetapi apa yang dilihat manusia itu hanyalah rupa tetapi Allah melihat hati (1 samuel 16:7). Ya, saya hanyalah seperti robot yang dikendalikan aktifitas rohani yang saya lakukan dulunya. Dibalik semua aktifitas yang saya lakukan, saya menyadari bahwa hidup saya sebenarnya hancur dan untuk menutupi rasa malu dan hancur itu saya melakukan aktifitas-aktifitas yang ‘baik’ dihadapan manusia, tetapi tidak dihadapan Allah.

Saya mengalami kehancuran hati sejak kecil oleh karena diri saya sendiri, keluarga saya dan juga termasuk teman-teman (lingkungan pergaulan) saya. Saya terlahir dengan keadaan lemah sebagai seorang pria, dan itu didukung dengan kondisi keluarga saya dimana saya melihat mama saya yang seolah-olah memerintah atas keluarga saya dan ayah saya seperti tidak menunjukkan seorang ayah yang dipikiran saya “macho”. Jadi saya sejak kecil menjalani hidup di bawah otoritas keluarga khususnya mama saya. Saya memiliki seorang saudara perempuan, kakak saya, yang waktu itu sering sekali bertengkar dengan dia dan dia selalu yang menang, sehingga saya menganggap diri saya ini seorang pria yang lemah. Tidak hanya di situ saja, bahkan di pergaulan saya dengan teman saya sejak dari SD sampai SMA pun saya dijuluki seorang pria yang lemah, dengan kata kasarnya disebut “banci”. Hal itu sangat membekas di hati saya dan itulah yang menjadi salah satu luka batin saya sejak kecil sebelum saya mengalami pemulihan. Sewaktu kecil juga oleh karena kenakalan saya, saya mencuri uang orangtua saya. Apa tujuannya? Ya, tujuannya supaya saya dapat jajan di sekolah, karena saya iri dengan teman saya yang sering jajan, dan saya sering menjadi peminta-minta kepada teman saya. Hal ini karena saya merasa saya kurang diperhatikan oleh orangtua saya. Sewaktu ibu saya mengetahui perbuatan saya ini, ia memanggil saya dan menghukum saya dengan sekuat tenaga. Dia menghukum saya, memukul saya pakai rotan, bahkan memijak saya dengan kakinya. Tidak sampai disitu, ia juga mengurung saya dikamar dan tidak memberi saya makan, bahkan saya mendengar bahwa ia mau berikhtiar memasukkan saya ke panti asuhan. Ia menyeret saya keluar dari rumah, sementara saya hanya bisa menangis dan tidak melawan karena waktu itu saya masih SD dan kekuatan saya tidak seberapa. Saya sangat kepahitan dengan ibu saya dan tidak terkecuali ayah serta keluarga saya. Mereka memperlakukan saya begitu kejam. Dan rasa itu terus ada sampai sebelum saya benar-benar menerima YESUS sebagai Tuhan dan Juruselamat saya dan mengalami pemulihan. Sejak saat itu saya menjadi sering memberontak sama orangtua saya, bahkan mengutuki mereka kalau saya benar-benar marah (sungguh alangkah berdosanya saya ini).

Waktupun semakin berlalu dan akhirnya akupun lulus SMA, dan ikut bimbel di Bogor di tempat kakak saya. Waktu itu kakak saya sudah bertobat dan lahir baru namun saya belum mengetahuinya. Suatu hari, saat saya sedang belajar untuk persiapan SPMB, saya didatangi oleh teman kakak saya, namanya Desmon, dan ia bercerita banyak tentang hidupnya yang lama dan bagaimana ia diubahkan oleh Tuhan secara luar biasa. Saya pikir hidupnya yang lama itu tidak jauh berbeda dengan kehidupan saya, dan saya kagum melihat perubahan hidupnya. Sampai ia bercerita bagaimana ia menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat, dan hidupnya diubahkan ia pun juga menantang saya untuk saya mau lepas dari hidup saya yang lama dan diselamatkan oleh Tuhan Yesus dan menjadikan Dia sebagai Penguasa pribadi atas hidup saya. Waktu itu Tuhan melembutkan hati saya dan saya pun menerima Dia sebagai Tuhan Juruselamat saya. Saya didoakan oleh orang itu dan saya menangis, tetapi ada sukacita yang besar dalam hidup saya, saat saya mengetahui saya diselamatkan dan menjadi manusia yang baru di dalam Tuhan. Itulah awal saya lahir baru.

Saya pun diterima masuk di ITB dan saya dimuridkan oleh seorang abang yang luar biasa di persekutuan SION, namanya adalah Daniel. Oleh karena hidupnya, kepribadian saya dibentuk. Saya diajak oleh dia mengikuti suatu retrat, dan saat saya mengikuti retreat itu saya mengalami pemulihan demi pemulihan dalam hidup saya. Saya yang tadinya membenci orangtua, keluarga, dan teman-teman saya menjadi mengasihi mereka. Pembaca dapat mengetahui, bahwa saat ini saya sangat sayang sama ibu saya dan ayah saya, bahkan saya masih mendoakan mereka agar hidup mereka diubahkan dan menerima Yesus dengan sempurna sama seperti saya yang terlebih dahulu dipanggil oleh Dia. Hubungan saya dengan orangtua saya saat ini semakin baik, bahkan kami sering bertelepon dan bercanda, dan tertawa lewat telepon hahaha. Ibu saya setiap menelepon saya selalu menasihatkan hal-hal yang baik, dan nasehat itu sangat saya rindukan dan semakin menguatkan saya dan semakin membuat saya mengasihi dia sebagai ibu yang sangat luar biasa dalam hidup saya. Saat ini pun saya bisa berkata, bahwa tidak ada ayah dan ibu yang lebih baik daripada ayah dan ibu yang telah Tuhan beri pada hidup saya. I love you my mom and my dad.

Itulah kisah bagaimana saya yang dahulunya sampah dan menganggap saya sebagai seorang yang ditolak, sekarang sudah dipulihkan oleh kasih karunia ALLAH dalam pribadi YESUS KRISTUS. Suatu berkat yang terindah saat saya boleh mengenal Kristus di kampus ITB yang luar biasa ini.