Dipimpin oleh Roh Kudus


 

Pada saat penciptaan, Allah berkata, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (Kejadian 1:26)

Kita di sini berarti jamak. Allah berkata tentang diri-Nya dalam bentuk jamak karena Ia adalah Allah Tritunggal: Bapa, Anak dan Roh Kudus. Jika Allah, yang adalah Tritunggal menciptakan manusia menurut gambar-Nya, maka apa yang diharapkan dari manusia? Sebuah trinitas tentu saja! Di dalam 1 Tesalonika 5:23 Paulus menulis, “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna …”

Ayat ini  menjelaskan manusia  adalah makhluk Tritunggal yang terdiri dari roh, jiwa, dan tubuh. Selain panca indera jasmaniah, kita juga memiliki pancaindera rohani. Dalam perjalanan kita dengan TUHAN, manusia rohani kita akan bertumbuh dari  bayi rohani menjadi dewasa. Semakin dewasa manusia rohani kita, semakin kita dapat membedakan antara yang baik dengan yang jahat karena pancaindera kita menjadi terlatih. (Ibrani 5:13-14)

Diciptakan Menurut Gambar dan Rupa Allah

Yohanes 4:24 mengatakan kepada kita bahwa Allah adalah Roh. TUHAN menciptakan manusia dengan menghembuskan nafas-Nya, yang adalah Roh Allah ke dalam diri kita. “…ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan  menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. –Kej 2:7.

Allah adalah Roh tetapi Ia juga memiliki jiwa (pikiran, keinginan, dan emosi). Allah juga memiliki tubuh. Alkitab menunjukkan bahwa Allah bukanlah seperti uap yang halus dan ringan. Alkitab menunjukkan bahwa Ia memiliki mata, telinga, mulut, dan wajah yang tidak dapat dilhat oleh seorangpun. Dalam 1 Raja-Raja 8:42 kita membaca  bahwa Allah memiliki tangan yang berkuasa dan lengan yang terulur. Kitab Keluaran menceritakan bahwa Alllah menulis Hukum Taurat di atas dua loh batu dengan jari-jariNya. Dalam 1 Raja-Raja 33:23 dikatakan bahwa Ia memiliki tangan, punggung dan wajah.

Kebebasan untuk Memilih

Perbedaan utama antara manusia dengan makhluk lainnya adalah manusia mempunyai akal dan kehendak. Tumbuhan meresponi musim dan hewan bertindak berdasarkan insting, tetapi manusia tidak dibatasi oleh kedua hal itu. Manusia dapat memakai akal budinya untuk membuat pertimbangan dan memilih bagaimana ia akan bertindak.

Kebebasan untuk ”memilih”  sesungguhnya adalah satu-satunya kebebasan sejati yang kita miliki. Sangat penting bagi kita untuk memakai kehendak kita dengan benar selama kita hidup di bumi. ”We become captives of our own choices”, kita menjadi tawanan dari pilihan-pilihan yang kita buat sendiri. Kita sendiri yang harus menanggung konsekuensi daripada pilihan kita. Oleh karena itu, kita memerlukan hikmat dan banyak nasehat agar tidak salah membuat pilihan.

Oleh sebab itu sebagai mitra kerja TUHAN di bumi, yang mempunyai kehendak bebas, kita dapat memilih untuk melayani TUHAN karena ingin menyenangkan Dia atau  karena suatu keharusan. Kita sendiri yang menentukan kesuksesan kita dengan pilihan-pilihan yang kita buat. Bahkan saat kita tidak membuat pilihan apapun, sebenarnya kita sudah memilih untuk tidak memakai kehendak kita.

Roh Kudus selalu menggerakkan kita menuju Destinasi

Kunci sukses adalah memiliki hubungan yang intim dengan Roh Kudus. Selama Anda fokus pada diri sendiri, Anda tidak akan bisa fokus kepada TUHAN. Ketakutan, minder, stres sebenarnya dikarenakan kita terlalu fokus pada diri sendiri, akibatnya kita tidak bisa mendengar suara TUHAN. Selama Musa fokus kepada TUHAN, mukanya penuh dengan kemuliaan Allah. Selama Petrus fokus ke Yesus, dia berjalan di atas air dan tidak tenggelam. Inti dari mengikuti Yesus: adalah sangkal diri, pikul salib berarti berjalan dipimpin Roh.

Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.

– 1 Korintus 2:10

Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh.

– 1 Korintus 2:12-13

Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani. Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.

– 1 Korintus 2:14-15

Manusia duniawi kita tidak memahami hal-hal yang hanya dapat dipahami oleh manusia rohani kita. Adalah pilihan kita sendiri untuk mendengar manusia duniawi atau manusia rohani kita. Jika Anda memberi diri Anda dipimpin oleh Roh, maka ini  akan membawa kegerakan dan bukan revolusi. Roh Kudus selalu menggerakkan kita menuju destinasi.

Bagaimana Anda tahu bahwa pancaindera rohani Anda terasah dan Anda sedang mentaati suara TUHAN?

Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.  –Yohanes 16:13

Roh Kudus adalah Roh Kebenaran; Dia akan selalu memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran. Roh Kudus akan memimpin kita sehingga langkah kita sesuai dengan Firman. Dan Roh Kudus akan bersaksi di dalam roh kita; wasitnya adalah  damai sejahtera di hati kita. Selagi kita bertumbuh dari kemuliaan ke kemuliaan, dari iman ke iman, pancaindera rohani kita semakin terasah dan kita semakin sensitif terhadap suara-Nya.

Visi TUHAN selalu lebih besar dari Kapasitas Kita

Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.

– 1 Korintus 2:9

Apa yang TUHAN sediakan bagi kita sangat besar dan luar biasa dan tidak dapat ditangkap oleh pancaindera jasmaniah kita. Oleh karena itu kunci  untuk   mencapai destinasi adalah kita harus fokus pada manusia rohani kita bukan pada rasio, insting, maupun perasaan kita.  Seperti yang dikatakan oleh Maria, ibu Yesus kepada pelayan-pelayan ketika anggur di pesta perkawinan di Kana habis: ”Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yohanes 2:5).

Hiduplah  dipimpin oleh Roh, karena hanya Roh TUHAN yang dapat memimpin  kita masuk ke dalam destinasi TUHAN.  Dengan TUHAN, batasan kita tidak lagi langit –seperti  yang dunia katakan– tetapi batasan kita adalah kasih karunia TUHAN. Kekuatan kasih karunia TUHAN menentukan level kesuksesan kita.

No longer is the sky is the limit; with God, His grace is our limit

By : Ps. Indri Gautama

sumber : http://jawaban.com/news//spiritual/detail.php?id_news=101201175224

Advertisements

Hidup Dalam Kekudusan


 By : Ps. Indri Gautama
 
1 Petrus 1:13-16
Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

Salah satu definisi kekudusan adalah berada dalam keadaan murni. Dalam bahasa Ibrani, kudus adalah “kadosh” artinya naik lebih tinggi. Dalam bahasa Inggris, definisi kudus adalah “cut above” artinya di atas rata-rata. Tuhan memanggil kita untuk naik ke standar-Nya, untuk hidup sebagaimana Dia hidup dan berpikir sebagaimana Dia berpikir. Inilah panggilan Tuhan bagi gereja-Nya: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus”.

Orang yang sombong berpikir bahwa ia dapat mencapai kekudusan dengan mengandalkan kekuatannya untuk mentaati berbagai peraturan. Sebaliknya, orang yang rendah hati tahu bahwa ia tidak dapat mencapainya. Ia bergantung pada anugerah dan kekuatan Allah; dan Allah memberikan anugerah kepada orang yang rendah hati. Kekudusan adalah pekerjaan anugerah Allah, bukan hasil kekuatan daging. Sebab tanpa kasih karunia Tuhan, tidak ada orang yang mampu hidup dalam kekudusan. Namun demikian, seringkali kita berpikir, apakah mungkin hidup kudus?

Roma 12:1
“Karena itu, saudara-saudara demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati.”

Dalam alkitab versi NKJ, “ibadahmu yang sejati” dikatakan sebagai ”your reasonable service”. Reasonable artinya dapat dijangkau, berada dalam jangkauan kemampuan.  Dengan kata lain, hidup dalam kekudusan adalah  kehidupan yang dapat dijangkau dan  merupakan kehidupan Kristen rata-rata, bukan sesuatu yang mustahil. Nah, bagaimana kita dapat hidup dalam kekudusan?

1. Hidup Dalam Takut Dan Hormat Akan Tuhan

Ibrani 12:28
Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.

2. Belajar Firman Tuhan

Belajar firman Tuhan sebab Firman adalah ilham Allah.

2 Timotius 3:16
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Dalam bahasa Gerika, ilham adalah “Teos neuma” artinya nafas Allah.

3. Memperbarui Pikiran Dengan Firman

Roma 12:2
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Dalam bahasa Inggrisnya “be transformed” artinya menyeberang dari dunia, naik ke tempat yang lebih tinggi. Sekalipun kita hidup di dunia, tetapi berjuang untuk bersikap sama seperti Tuhan.

4. Fokus Pada Karakter Tuhan Dan Bukan Pada Peraturan-Nya

Karena peraturan mematikan, tetapi karakter dan kasih karunia-Nya memampukan kita hidup kudus. Law gives you the picture of holiness, but grace gives you the power to live holy.

Ketika Tuhan memberi perintah, maka Dia juga akan memberikan kasih karunia-Nya agar kita mampu melakukan perintah-Nya. Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

sumber:

Dalam kasih-Nya,
Maria Magdalena Ministries
http://www.mmmindo.org
Copyright 2008

http://jawaban.com/news//spiritual/detail.php?id_news=080605104343

Apakah Anda diberkati oleh artikel di atas? Anda ingin mengalaminya? Ikuti doa di bawah ini :
Tuhan Yesus, aku menyadari bahwa aku seorang berdosa yang tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Aku membutuhkan Engkau. Aku mengakui bahwa aku telah berdosa terhadap Engkau. Saat ini aku minta agar darah-Mu menghapuskan segala kesalahanku. Hari ini aku mengundang Engkau, Tuhan Yesus, mari masuk ke dalam hatiku. Aku menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya dalam hidupku. Aku percaya bahwa Engkau Yesus adalah Tuhan yang telah mati dan bangkit untuk menyelamatkan dan memulihkanku. Terima kasih Tuhan, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku berdoa. Amin!

Emergency Bible Numbers (Nomor-nomor panggilan darurat dalam Alkitab)


 

Anda mengalami suatu hal yang tidak menyenangkan dalam hidup ini???? Silahkan baca Alkitab dan percaya itu terjadi dalam hidupmu !!

Berikut nomor-nomor panggilan darurat dalam Alkitab yang bisa membantu hidup anda pulih :

 

10341536_670337339704923_7418383243996801182_n

 

 

 

Pesan Kasih Natal


Matius 9:9

“Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.”

Bagaimana kita menanggapi orang yang bagi dunia sudah dianggap terhilang? Ada banyak orang yang seperti itu. Bagi dunia mereka hanya dianggap sampah masyarakat, orang dari kelompok yang berlumur dosa, orang-orang yang tidak mendapat tempat dalam masyarakat, bahkan seringkali mereka ini dihujat, dihina atau dipukuli seenaknya oleh sekelompok orang yang menganggap dirinya paling suci dan bersih di muka bumi ini. Di gereja kita pun tidak menutup kemungkinan ada orang-orang yang mungkin kita ketahui belum lurus-lurus benar hidupnya. Mereka masih banyak melakukan kesalahan yang nyata terlihat di mata orang banyak. Bagaimana kita menghadapi mereka? Apakah bergunjing, bersikap sinis, membuang muka atau mengelak dan membiarkan mereka sendirian, atau kita mengulurkan tangan persaudaraan dan berusaha membantu mereka untuk bisa mengenal Kristus dan meneladaniNya dalam kehidupan mereka secara benar? Ada banyak orang yang memilih alternatif pertama, yaitu bersikap memusuhi. Ada banyak gereja bukan lagi tempat bersahabat untuk menjangkau jiwa terhilang, tetapi sudah menjadi sebuah komunitas dimana isinya orang-orang yang merasa paling benar dan punya hak untuk menghakimi.Jika Yesus yang bertahta di dalam gereja itu masih ada di dunia dan sedang duduk disana, akankah Yesus bersikap memusuhi? Pasti tidak. Saya yakin 100% Yesus akan menghampiri, menyambut dan memeluk mereka mengajak untuk bertobat.

Dalam banyak kesempatan di dalam Alkitab kita bisa menemukan fakta bagaimana Yesus memperlakukan orang-orang berdosa ini. Tuhan membenci dosa, tetapi Dia tidak membenci orang berdosa. Bahkan di antara murid-muridNya ada satu yang berasal dari kelompok hina di mata masyarakat, dari kelompok pemungut cukai yang namanya sangat terkenal, yaitu Matius.

Matius awalnya bukanlah orang yang baik di mata masyarakat. Profesinya adalah sebagai pemungut cukai. Artinya ia bekerja untuk kepentingan Roma, bangsa penjajah. Pemungut cukai digolongkan ke dalam orang berdosa pada masa itu dan dikucilkan masyarakat karena dianggap musuh. Pada suatu hari Yesus bertemu dengan Matius.“Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.” (Matius 9:9). Yesus tidak melewatkan Matius begitu saja. Dia orang berdosa, ia adalah musuh orang Yahudi. Tapi lihatlah bahwa Yesus tidak melewatinya apalagi memusuhi tapi malah menghampiri Matius dan mengajaknya ikut. Lalu kita tahu bahwa Matius memilih untuk berdiri dan mengikut Yesus. Sebuah pilihan yang sangat tepat. Yesus berkunjung dan makan di rumah Matius. Lihatlah saat itu ternyata kedatangan Yesus berkunjung ke rumah Matius terdengar oleh pemungut cukai dan orang-orang berdosa di mata masyarakat lainnya. Mereka pun berbondong-bondong datang. Mumpung Yesus berada di rumah salah seorang dari mereka, mungkin itu yang mereka pikirkan. Dari satu kemudian berkembang menjadi banyak. Orang Farisi pun kaget melihat itu dan segera bertanya kepada para murid, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (ay 11). Yesus ternyata mendengar itu dan kemudian berkata: “Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (ay 12-13). Jawaban ini sesungguhnya jelas menggambarkan seperti apa hati Yesus itu. Yesus menyatakan bahwa tugasNya ke dunia ini adalah untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Meski hanya satu jiwa saja, itupun berharga bagiNya. Kita tahu apa yang terjadi kemudian. Matius bertobat dan menjadi murid Yesus. Tidak hanya murid biasa, tapi ia pun termasuk dalam satu dari empat penulis Injil yang bisa kita baca hingga hari ini. Itu semua bermula ketika Yesus tidak memandang jumlah dan mau repot-repot mengurusi orang berdosa, bahkan satu orang saja sekalipun.

Satu orang, sepuluh, seratus, seribu, itu tidaklah masalah di mata Tuhan. Semakin banyak semakin baik, tetapi satu pun tetap penting di mata Tuhan untuk diselamatkan. Yesus sendiri berkata: “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?” (Lukas 15:4). Satu jiwa sekalipun itu berharga di mata Tuhan, dan Dia tidak menimbang-nimbang sebesar apa dosa yang pernah kita lakukan. Datang kepadaNya mengikuti panggilanNya dengan hati yang sungguh-sungguh akan selalu Dia sambut dengan penuh sukacita.

Tuhan tidak pernah membenci orang berdosa. Dia bahkan mau bersikap proaktif untuk mendatangi dan menjangkau orang per orang. Bukankah Yesus pun datang untuk menyelamatkan domba-domba yang hilang? Selalu terbuka kesempatan bagi siapapun untuk bertobat, kembali kepadaNya dan dilayakkan untuk masuk ke dalam kehidupan kekal yang penuh dengan sukacita. Jika Tuhan seperti itu, mengapa kita sebagai manusia malah tega menghakimi dan menganggap diri kita berhak untuk itu? Mari teladani Yesus lewat sikap, tindakan dan perbuatan kita. Jangkaulah jiwa-jiwa terhilang, jangan musuhi dan abaikan mereka, karena Yesus pun akan berbuat tepat seperti itu.

Yesus mengasihi manusia tanpa memandang berat ringannya dosa dan menawarkan keselamatan kepada semuanya.

In this Christmas season Jesus says to you :For I did not come to call the righteous, but sinners to repent, and I has come to save that whom was lost. I love you, just the way you are!

Inilah penyataan Kasih itu:

Sebab Yesus Kristus datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa untuk bertobat, dan Dia datang untuk menyelamatkan yang terhilang.

Yesus Kristus mengasihimu apa adanya!

bahasa cinta yesus

Bangkitlah Daniel-Daniel baru!


sumber : Note facebook Royanto Napitupulu

 “Daniel-Daniel baru akan bangkit di akhir jaman ini!” dan kita semua setuju. Kita memang harus setuju. Dan untuk itu kita perlu belajar lebih JUJUR tentang Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Aku menambahkan kata JUJUR untuk memberikan impression kepada Anda supaya Anda tahu bahwa ada sesuatu yang lebih dalam yang aku maksudkan.

Saat diajarkan tentang Daniel, maka para pengkotbah hampir selalu menyinggung masalah “hikmatnya yang sepuluh kali lipat” dan itu dikaitkan dengan “menjadi juara 1 dikelas, IP 4,02, menjadi yang terbaik di negeri!” Ok, anggaplah itu benar.

Tetapi lihatlah keempat orang itu. “Yang mananya” sebenarnya yang menaklukkan seluruh Babilonia dan semua jajahannya di bawah kaki Yehova, Allah Israel? Teman-teman, jawabannya adalah sikap TANPA KOMPROMINYA, bukan kepintarannya yang sepuluh kali lipat itu.

Banyak orang berkata,”Kita harus masuk ke dunia bisnis, ke pemerintahan, dsb untuk menjadi garam di sana!” Itu benar. Dan lebih baik Anda belajar lagi apa artinya menjadi garam. Mengapa? Karena sesampainya di sana, ternyata kalimat mereka berubah menjadi,”Kita harus cerdik seperti ular!“

Aku takutnya, Anda bukan “cerdik seperti ular” tapi telah menjadi ULAR. Sebutkanlah kata “berbelat belit” maka itu ada kaitannya dengan ular. Dan banyak Firman dalam Alkitab yang berkata,”Aku ngga suka, bahkan benci dengan orang-orang yang berbelat-belit!”

Ulangan 32:5  Berlaku busuk terhadap Dia, mereka yang bukan lagi anak-anak-Nya, yang merupakan noda, suatu angkatan yang bengkok dan belat-belit.

Ayub 5:13  Ia menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya sendiri, sehingga rancangan orang yang belat-belit digagalkan.

“Kita harus cerdik seperti ular” kata sebagian orang, tapi ternyata mereka jatuh ke dalam “berbelat-belit” dan Tuhan berkata dalam Yeremia “ketulusan mereka telah lenyap”.

Yeremia 7:28b “Ketulusan mereka sudah lenyap, sudah hapus dari mulut mereka.

Dan sikap seperti apakah, atau kualitas yang manakah dari keempat orang itu yang menaklukkan dunia oleh iman? TANPA KOMPROMI!

Daniel, teman-teman, BEGITU MENDENGAR peraturan dikumandangkan untuk melarang orang berdoa, DIA LANGSUNG PERGI BERDOA, seperti biasa. Dia tidak “cerdik seperti ular“. Lalu dia dimasukkan ke gua singa, dan banyak di antara kita mungkin berkata,”kurang hikmat, kurang hikmat! Kurang cerdik seperti ular“.

Sadrakh, Mesakh dan Abednego, teman-teman, masih saja tidak mau menyembah (berkompromi) patung buatan raja agung, Nebukadnezar, bahkan berani “memberi jawab” kepada raja yang sangat dihormati itu,”Tuhan kami sanggup tolong…. (terj. Bahasa Inggris Daniel 3:17)!” Mereka dilemparkan ke perapian yang dipanaskan 7 kali lipat itu, dan kita mengadakan rapat di kamar sebelah,”kurang berhikmat, kurang berhikmat! Kurang cerdik seperti ular!

Saya tahu pernyataan Anda sangat tulus dan jujur saat berkata,”Saya masuk ke perusahaan ini untuk menjadi garam dan terang!” Tetapi sadarilah dan cobalah tinjau kembali, apakah Anda mirip dengan Daniel, Sadrakh, Messakh dan Abednego, atau tidak. Karena kalau tidak, teman-teman, impianmu untuk menaklukkan perusahaan dan pemerintahan di bawah kaki Kerajaan Tuhan tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Aku takut, Anda bukan bertanding dalam pertandingan iman, dan karenanya Anda kecewa, karena memang tanpa iman tidak mungkin Anda berkenan kepada Tuhan.

Saya tahu ini sangat idealis, tetapi Daniel bisa, dan “harus bangkit Daniel-Daniel baru di akhir jaman ini.”

Itulah tentang Daniel..

Hubungan Horizontal di dalam Kristus


Pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib membelah tabir pemisah antara manusia dan Allah. Betapa Allah rindu akan pulihnya suatu hubungan. Allah adalah Kesatuan yang sempurna yang merupakan Kasih.

Matius 5:22-24

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Berdasarkan ayat di atas, hubungan lebih penting dari pelayanan yang kasat mata. Allah rindu setiap umatnya dipulihkan dalam hal hubungan. Alangkah menyedihkannya jika seseorang berkata bahwa ia mengasihi Tuhan tetapi ia membenci saudaranya (1 Yohanes 4:20)

Teladan Jemaat Mula-mula dalam Perjanjian Baru

Jemaat mula-mula merupakan teladan yang luar biasa mengenai kesatuan hati (Kisah Para Rasul 2:46-47). Mereka berkumpul setiap hari dan bersatu hati. Di ayat 27, setelah dijelaskan mengenai kesatuan, ada tertulis

“..Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Artinya Allah bekerja dengan leluasa di dalam kesatuan. Dengan kata lain, Allah akan lebih mempercayakan jiwa kepada kumpulan orang-orang percaya yang bersatu hati.

Dalam 1 Tesalonika 3, Paulus rindu untuk mengunjungi jemaat-jemaat Tesalonika. Paulus adalah rasul besar di dalam alkitab. Paulus memiliki hati untuk jemaatnya. Dalam suatu hubungan, penting untuk memiliki hati untuk saudara-saudara kita. Hati inilah yang membedakan orang-orang yang sungguh-sungguh peduli dengan yang tidak. Orang yang memiliki hati untuk sesamanya tidak akan cepat menyerah, tidak turun naik dalam mengasihi, dan sabar menanggung segala sesuatu.

Paulus berkata, “Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan.” (1 Tesalonika 3:8). Paulus menyadari bahwa seorang kepala tidak bisa berbuat apa-apa tanpa tubuh. Kepala membutuhkan tubuh, begitu pun tubuh, tubuh juga membutuhkan kepala. Tidak ada yang bisa berjalan sendiri-sendiri di sini. Semuanya saling membutuhkan. Kesombonganlah yang membuat seseorang merasa kuat dan tidak butuh siapapun.

Kesatuan/kesepakatan

Kesatuan memiliki kekuatan yang luar biasa. Salah satu contohnya adalah kisah Menara Babel, dimana manusia dengan kekuatannya berusaha membuat satu bangsa dan satu bahasa (Kejadian 11). Sampai-sampai Tuhan harus turun tangan mengatasi ini, betapa dahsyatnya persatuan. Hal lain mengenai kesatuan dikemukakan Yesus di Matius 12:25-26

Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis mengusir Iblis, ia pun terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri; bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan?

Kesatuan begitu dahsyat kekuatannya dan inilah bagian yang sering diserang di Gereja Tuhan. Adanya benih perpecahan, rasa saling tidak percaya, mencurigai satu sama lain, dan kepahitan membuat Gereja tidak maksimal dalam menjalankan panggilannya. Iblis tahu di celah mana dia menyerang anak-anak Tuhan. Untuk itu, kita perlu memandang penting kesatuan Tubuh Kristus dan waspada terhadap perpecahan. Kenakanlah Kristus sebagai pengikat kita bersama.

Kesatuan itu bekerja di dalam aliran. Maksudnya, kesatuan itu dihasilkan dari kasih yang terus menerus mengalir. Jika kita mengasihi seseorang dan berharap orang itu mengasihi kita kembali, itu artinya tidak mengalir. Lepaskanlah kasih itu, alirkan dengan murah dengan tidak mengharapkan imbalannya.

Hal-hal yang berhubungan dengan hubungan dengan sesama di dalam Kristus:

1. Keterbukaan (1 Yohanes 1:7, Yakobus 5:16)

Sifat Allah adalah terang dan di dalam terang tidak ada yang tersembunyi. Keterbukaan membuka jalan untuk pemulihan. Keterbukaan dapat menutupi celah-celah yang bisa dipakai iblis untuk menyerang kita. Allah ingin anak-anak-Nya hidup di dalam terang, jujur, tulus, apa adanya, dan tidak memakai topeng.

Dalam persekutuan Kristen sejati, kita tidak perlu berusaha menutup-nutupi kekurangan-kekurangan kita. Kita dapat bersikap jujur dan terbuka karena kita berada di antara orang-orang yang juga mengalami realita pengampunan Tuhan. Secara manusiawi, tidak mudah untuk hidup jujur dan saling terbuka. Hal ini disebabkan oleh kesombongan, iri hati, kuatir, curiga dan kebencian terhadap orang lain. Hanya Roh Kudus yang dapat menolong kita hidup untuk dalam terang – Bertumbuh dalam Kristus

Tentu saja, kita tidak terbuka ke semua orang, tetapi hanya kepada orang-orang yang memiliki akuntabilitas dan tanggungjawab atas hidup kita. Dengan keterbukaan, akan terbuka jalan untuk saling mendoakan dan menjagai satu sama lain.

2. Menasihati/menegur (Matius 18:15-20)

Menasihati/menegur sesama saudara diperlukan dalam proses pertumbuhan karena di dalam sebuah proses bersama pasti terdapat gesekan (Amsal 27:17). Oleh karena itu perlu menyelesaikan persoalan hubungan dengan saudara seiman dengan mengacu pada Firman Tuhan. Prinsip Firman Tuhan adalah menegur secara empat mata pertama kali. Ketika ada persoalan dalam hal hubungan, jangan langsung di “floor” kan di forum besar supaya orang yang lemah imannya tidak menjadi tambah lemah dan tidak terjadi distorsi cerita atau gosip di pelayanan. Selain itu, bereskanlah konflik sesegera mungkin (Efesus 4:26). Sebenarnya perselisihan antara anak Tuhan adalah hal yang tidak perlu. Hal ini menghabiskan banyak energi, pikiran, dan emosi. Segeralah bereskan dan buanglah beban yang merintangi.

Kemiskinan dan cemooh menimpa orang yang mengabaikan didikan, tetapi siapa mengindahkan teguran, ia dihormati. (Amsal 13:18)

Jika kita ditegur, artinya kita dicintai. Seringkali seseorang merasa teguran itu adalah penghinaan baginya, sebetulnya tidak begitu. Respon kita jika menerima teguran seharusnya berterimakasih, tidak reaktif, dan menginginkan perbaikan diri. Jika memang ada klarifikasi, lakukanlah, dan mintalah maaf 🙂 Jika kita ingin menegur seseorang, kita harus ingat bahwa dosanyalah yang kita benci, bukan orangnya. Artinya kasihi orangnya, tetapi benci dosanya, bukan benci orangnya. Berikanlah usulan/ solusi/ perbaikan dan jangan memakai kata-kata penghakiman, seperti, “Kamu selalu… kamu tidak pernah…”

3. Pengampunan (Matius 18:21-35)

Pengampunan bukanlah hal yang sulit jika dilakukan dengan kasih karunia. Kita akan lebih mudah mengampuni jika kita tahu kita juga diampuni banyak oleh Tuhan. Kasih tidak mengingat kesalahan orang lain. Mintalah kepada Allah supaya kita memiliki hati yang luas dan mudah “melepas”. Jika ada orang yang menyakiti kita, kita tidak menyimpan kesalahannya dalam hati kita, tetapi melepaskannya. Menyimpan akar pahit kepada siapapun akan merusak kehidupan kita dan menghambat pertumbuhan kita. Hal ini bisa diibaratkan seperti layang-layang yang terbang tinggi, tetapi layang-layang ini hanya bisa pergi sebatas panjang benangnya, tidak bisa lebih jauh lagi. Akar pahit dapat menghambat rencana Tuhan dalam hidup kita dan membuat kita tidak maksimal. Percayalah firman, lakukan, berantas akar pahit, dan ambillah keputusan untuk mengampuni orang yang bersalah pada kita.

Ada hal menarik dalam cerita penangkapan Yesus di taman Getsemani. Pada waktu Yesus akan ditangkap, Petrus dengan reaktif memotong telinga Malkhus dengan pedang, kemudian Yesus menyembuhkan telinga Malkhus. Cerita ini ditulis dalam keempat Injil, artinya ada sesuatu yang mau Tuhan katakan untuk kita. Sebagian besar orang mengira dia akan pulih dari sakit hatinya kalau orang yang menyakitinya minta maaf dan melakukan setimpal dengan apa yang dia harapkan. Akibatnya kita menjadi orang yang suka menuntut dan sukar mengampuni. Tuhan berkata, terkutuklah orang yang mengandalkan manusia. Artinya kita tidak bisa mengharapkan manusia yang menjadi penyembuh luka kita. Kalau manusia bisa menyembuhkan luka, Malkhus akan datang ke Petrus dan dia akan disembuhkan. Namun pada kenyataannya Petrus tidak bisa menyembuhkan Malkhus, tetapi Yesuslah yang menyembuhkannya. Segala luka hanya bisa disembuhkan oleh Yesus, manusia tidak bisa menyembuhkannya. Kesalahan kita adalah mengharapkan orang lain untuk menjadi penyembuh luka kita. Arahkahlah pengharapan dan kesembuhan kita pada Yesus. Ketika kita melihat Yesus, kita akan dapat mengampuni dan dipulihkan.

4. Penghakiman dan Tuntutan (Matius 7:1-5)

Apa yang kita lakukan ketika saudara kita jatuh? Atau misalnya pemimpin kita jatuh ke dalam dosa? Sebagian orang akan bersikap menghakimi dan memandang sinis orang tersebut. Apa yang Allah lakukan ketika melihat anak-anak-Nya jatuh?

Penghakiman seringkali menghinggapi orang-orang yang sudah lama ikut Tuhan atau memiliki banyak pengetahuan akan Firman. Yesus melarang penghakiman, sebab kita tidak punya hak untuk menghakimi. Penghakiman erat kaitannya dengan sikap menuntut. Ada seseorang yang selalu menuntut setiap orang. Orang-orang yang suka menuntut berkata, “Harusnya dia seperti itu, seperti ini, harusnya dia tahu itu” dan sebagainya. Penghakiman dan tuntutan membuka jalan untuk kepahitan. Sadarlah bahwa di hadapan Tuhan, kita semua sama, ditebus dengan darah yang sama. Tidak ada yang lebih tinggi atau rendah daripada yang lain. Allah menerima kita apa adanya, kita pun harus menerima orang lain apa adanya. Beranilah untuk melepaskan penuntutan, dan miliki kerelaan berkorban untuk saudara seiman.

Love bears up under anything and everything that comes, is ever ready to believe the best of every person, it hopes and fadeless under all circumstances, and it endures everything [without weakening] – 1 Corinthians 13:7 Amplified Bible

Kasih adalah pengikat persatuan. Kasih percaya yang terbaik di dalam diri setiap orang. Ayat di atas adalah kasih Allah kepada kita. Dia percaya yang terbaik dari setiap kita. Jika kita mengasihi seseorang, kita akan percaya yang terbaik dari dirinya sebagaimanapun dirinya pada masa sekarang.

Be blessed. All glory and honor belong to God 🙂