Kuasa dibalik Paskah: Worthy is The Lamb..!!


Pertama mari kita awali dengan penyembahan kepada Kristus Yesus: Worthy is The Lamb..!

Thank you for the cross, Lord.
Thank you for the price you paid.
Bearing all my sin and shame, in love you came
And gave Amazing Grace.

Thank you for this love, Lord.
Thank you for the nail-pierced hands.
Wash me in Your cleansing flow, now all I know…
Your forgiveness and embrace.

Worthy is the Lamb

Seated on the throne.
We crown You now with many crowns
You reign victorious!
High and lifted up
Jesus, Son of God.
The darling of Heaven, crucified…
Worthy is the Lamb.

Rekaman MP3 ini merupakan duet bersama dengan kak Vina Yunike (Teknik Lingkungan ITB angkatan 2005) Pada saat perayaan Paskah ITB tahun 2009. Hari itu merupakan hari yang sangat berkesan bagi saya karena bisa bernyanyi menyembah Tuhan yang ajaib bersama dengan kak Vina dan merasakan hadirat yang Dahsyat!

Kemudian mari kita merenungkan kisah dan Firman Tuhan berikut:

Bacaan: Efesus 2:1-10

Sebab karena anugerah kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, supaya tidak ada orang yang memegahkan diri. (Efesus 2:8-9)

Di salah satu pos pelayanan gereja saya, ada anggota yang bekerja sebagai pemulung rangkas (barang bekas). Rangkas yang terkumpul ada yang berasal dari kota lain di Indonesia. Di tempat itu, rangkas dipilah: botol dengan botol, kardus dengan kardus, plastik dengan plastik, besi dengan besi. Selanjutnya, rangkas dibawa ke pabrik untuk didaur ulang.

Kehidupan kita, oleh Paulus digambarkan seperti barang bekas yang dekil, kotor, bau, menjijikkan, dan layak dibuang karena dosa dan pelanggaran kita. Karena dosa, kita sudah mati dan layak dimurkai (ay. 1-3). Namun, dari pihak Allah, Dia kaya dengan rahmat dan penuh dengan belas kasihan. Tuhan “mendaur ulang” kita menjadi manusia yang berbeda dari sebelumnya. Dia memiliki rencana dan rancangan yang lain. Allah mau menyelamatkan dan menghidupkan kita kembali dalam anugerah Yesus Kristus (ay. 4-6). Bahkan Allah menjanjikan tempat di Kerajaan Surga (ay. 6). Semua hanya karena anugerah–karena pemberian Allah, bukan karena usaha kita sendiri–sehingga tidak ada yang dapat kita banggakan (ay. 8-10).

Paskah adalah merayakan anugerah Allah di dalam Yesus Kristus yang telah mati disalib menggantikan kita. Peristiwa Paskah tidak bisa dilepaskan dari peristiwa Jumat Agung saat anugerah keselamatan dari Allah diberikan karena Kristus sudah membayar lunas penebusan kita di kayu salib. Paskah sekaligus adalah bangkitnya kita dari kematian oleh dosa. Tindakan syukur apa yang kita lakukan atas anugerah besar yang kita terima itu.

Sumber:–Adama Sihite /Renungan Harian

1610904_677366642392972_3506299980380068110_n

DOSA TIDAK DAPAT MENGHENTIKAN ANUGERAH ALLAH YANG TERUS MENGALIR,
TETAPI ANUGERAH ALLAH PASTI MENGHENTIKAN DOSA.

–JOSEPH PRINCE

Selamat Hari Paskah…!!

Biarlah dihari ini kita mengingat bahwa Hanya oleh Darah Kritus saja kita dibenarkan dan diselamatkan dengan hati yang percaya dan hidup yang taat kepada firman-Nya. Amin!

GBU all 😀

Enam Gol Mengapa Allah Bapa Mengutus Yesus Datang ke Bumi


Enam gol mengapa Allah Bapa mengutus Yesus datang ke bumi adalah:

  1. To reintroduce the kingdom of God on earth through mankind. Untuk memperkenalkan kembali Kerajaan Allah di bumi lewat umat manusia.
  2. To restore the righteousness and holiness of mankind back to earth. Untuk mengembalikan kebenaran dan kekudusan dari umat manusia kembali ke bumi. Karena dosa, manusia telah kehilangan kebenaran dan kekudusannya di hadapan Tuhan.
  3. To restore the Holy Spirit back to man. Untuk menempatkan kembali Roh Kudus dalam diri manusia.
  4. To retrain mankind to think like God. Untuk melatih kembali manusia untuk berpikir serupa Allah.
  5. To restore God’s kingdom rulership on earth. Untuk mengembalikan kepemerintahan Kerajaan Allah di bumi lewat manusia. Allah ingin memerintah bumi, namun Dia sendiri tidak tertarik untuk kembali ke bumi, Dia mengatur agar kepemerintahanNya di bumi itu dieksekusi oleh manusia.
  6. To return the kingdom of heaven to God’s earthly kings. Untuk mengembalikan Kerajaan Sorga kepada raja-raja-Nya  di bumi.

Dari keenam poin ini, kita bisa melihat bahwa ternyata yang ada di dalam pikiran Allah adalah semata-mata mengenai hal Kerajaan, bukan agama, dan apa saja yang sorga kerjakan di bumi, itu semua terkait dengan kita. Yesus datang ke bumi tidak untuk membawa agama, melainkan untuk membawa Kerajaan. Satu-satunya pesan yang dibawa dan diberitakanNya adalah: Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat! Bertobatlah (repent), artinya ubahlah pola pikirmu, sebab Kerajaan Allah sudah datang! Repent, reintroduce, restore, restore, retrain, restore, return; dalam setiap kata ini digunakan awalan kata ‘re’ yang artinya kembali ke kondisi orisinil. Jadi tujuan Yesus datang ke bumi semuanya meliputi kembalinya umat manusia kepada kondisi orisinilnya, yaitu kondisi pada saat manusia ditempatkan di Taman Eden dimana manusialah yang memerintah atas planet bumi.

Yesus datang untuk membawa solusi bagi planet bumi yang saat ini sedang diperintah oleh sistem dunia/ kosmos yang membuat kondisi dunia kacau-balau. Dia datang untuk memperkenalkan kembali Kerajaan Allah, suatu sistem kepemerintahan yang di dalamnya tidak terdapat kekacauan, sakit-penyakit, kemiskinan dan sebagainya tetapi kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita. Yesus datang untuk merestorasi kebenaran dan kekudusan pada umat manusia. Yesus menangani dosa dengan cara Dia mati dan mencurahkan darah-Nya; darah-Nya membayar harga untuk penebusan dosa kita. Pada saat kita bertobat dan mengakui dosa, kita disucikan. Kita diberikan hati yang baru dan roh yang baru di dalam batin kita, dan posisi kita dikembalikan menjadi posisi yang benar di hadapan Allah. Yehezkiel 36:26-27, Yeremia 31, Ibrani 8, Ibrani 10.

Yesus datang untuk menempatkan kembali Roh Kudus dalam diri manusia. Pada mulanya manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah untuk mereka berkuasa atas bumi dan segala isinya (Kej. 1:26). Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. (Kej. 2:7). Tuhan tempatkan diri-Nya ke dalam diri manusia, Dia tempatkan Roh-Nya yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang hidup (living being) dan tidak sekedar makhluk; sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada (Kis. 17:28). Namun kemudian manusia jatuh dalam dosa, dan satu tindakan pelanggaran itu saja cukup untuk Roh Kudus meninggalkan manusia, karena Allah yang kudus tidak bisa berdiam dalam bejana yang sudah melakukan dosa.

Oleh karena itu karya terbesar yang Yesus lakukan pada waktu Dia berada di planet bumi ini bukanlah kayu salib ataupun kebangkitanNya, melainkan apa yang terjadi setelah kebangkitan itu (Yoh. 20:21-22). Yesus muncul di hadapan para murid, kata-Nya kepada mereka: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Lalu Dia melakukan tindakan yang sama seperti yang TUHAN Allah lakukan di Kejadian 2:7: Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus”; Yesus menempatkan kembali Roh Kudus ke dalam diri manusia. Dan Roh Kudus, Dialah kunci akses kita kepada Kerajaan Allah, penggenapan daripada Kerajaan Allah, kontak kita kepada Kerajaan Allah. Roh Kuduslah jawaban untuk segala sesuatu yang kita butuhkan, dan Bapa yang di sorga, yang jauh lebih baik daripada bapa di dunia yang meskipun jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anaknya, akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya (Lukas 11:13).

Yesus datang untuk melatih kembali manusia agar berpikir serupa Allah. Enam ribu tahun kita diperbudak oleh kegelapan, namun kemudian Roh Kudus datang dan membawa terang dalam hidup kita. Yesus melepaskan, menghantarkan kita dari kerajaan kegelapan ke kerajaan terang, tetapi Roh Kudus memerdekakan kita dari mentalitas berpikir kita yang lama yang berdosa, sebab Tuhan adalah Roh, dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan (Obaja 1:17, 21, 2 Kor. 3:17-18). Kita bisa sudah lahir baru, dan sebagai orang yang sudah lahir baru kita berada dalam garis keturunan Kerajaan, kita adalah pewaris takhta, tetapi kalau kita tidak memperbaharui pikiran kita, kita sedikit pun tidak berbeda dari seorang budak (Gal. 4:1-2). Disinilah peran Roh Kudus dalam  hidup kita untuk memerdekakan kita dari belenggu perbudakan. Roh Kudus akan menolong kita untuk melatih, mengkondisikan ulang cara kita berpikir, untuk kita menanggalkan pola pikir budak kita dan kembali kepada kondisi orisinil kita, kepada pola Adam berpikir sebelum dia jatuh dalam dosa. Sebab Roh Kudus, Dialah Roh Kebenaran, Roh yang memberikan kebenaran dan tidak pernah dusta, yang akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran (Yoh. 16:13). Dialah Penghibur: Penasehat, Penolong, Pengantara/ Pendoa Syafaat, Pembela, Pribadi yang menguatkan, Pribadi yang berdiri di samping kita yang akan mengajarkan segala sesuatu kepada kita, mendidik, menginstruksikan, mengingatkan kita (Yoh. 14:26);  apapun informasi yang ada pada Roh Kudus yang membuat Dia powerful dan yang membuat Yesus berhasil, itu akan diberikanNya kepada kita sehingga tidak ada di antara kita yang gagal.

Undanglah Roh Kudus dalam  hidup Anda, kehadiranNya hari demi hari dalam hidup kita adalah selagi kita mengundang Dia. Dan sementara Dia berdiam dalam diri kita, dan kita bercermin kepada firman Allah serta melakukan pembaruan sesuai dengannya, kita akan diubahkan semakin hari semakin serupa dengan Allah, dan dengan demikian kembali kepada kondisi orisinil kita sebagaimana Tuhan kehendaki kita pada mulanya.

Sumber: Pastor Indri Gautama

https://www.facebook.com/notes/indri-gautama/enam-gol-mengapa-allah-bapa-mengutus-yesus-datang-ke-bumi/10155262390685035

Apakah yang Hana lakukan terhadap Penina ?


1Sa 1:5  But unto Hannah he gave a worthy portion; for he loved Hannah: but the LORD had shut up her womb.

1Sa 1:10  And she was in bitterness of soul, and prayed unto the LORD, and wept sore.

Kitab Samuel yang dipenuhi kisah seorang anak muda bernama Daud dan perjalanannya menapaki tangga menjadi raja Israel dimulai tidak di Yehuda tetapi di pegunungan Efraim, di keluarga Elkana. Elkana mempunyai dua istri, Penina yang mempunyai banyak anak laki-laki dan perempuan, serta Hana, istri yang dikasihi tetapi tanpa anak.

Kenyataan bahwa dia dikasihi suaminya, dan memberikan kepada dia bagian yang berharga dari persembahan rumah Tuhan tidaklah menghibur hati Hana. Ketiadaan anak membuat apa yang dilakukan Penina sangat menusuk hatinya, 1 Sam 1:10 menulis bahwa hatinya pedih. Hanya seorang ibu yang tidak mempunyai anak yang bisa menggambarkan kepedihan hatinya.

Hana bisa saja pedih dan berusaha mengabaikannya, Hana bisa pedih dan menyalahkan Tuhan untuk segala kepahitan yang dialaminya, Hana bisa pedih dan menjauhkan Tuhan dari hidupnya, Hana bisa pedih dan balik berbuat kasar terhadap Penina. Tapi yang mebuat Hana menjadi wanita terpuji adalah karena ditengah kepedihannya :

                                                DIA BERDOA, dia berdoa, dia berDOA!

Menjadi pahit dan menyalahkan Tuhan adalah cara paling gampang tetapi bukan cara Hana. Karena itu dia memperoleh Samuel. Akankah kita menukarkan Samuel kita (janji Tuhan) dan menjadi orang yang paling pahit kepada Tuhan ?

Hati yang pedih membuat banyak orang lari ke Tuhan, tetapi banyak orang lainnya lari dari Tuhan, dan berakhir dengan tidak mendapat apa-apa. Maz 34:18 berkata : Tuhan dekat dengan orang yang patah hati dan Tuhan menyelamatkan mereka yang remuk jiwanya. Biarlah kita remuk jiwa dihadapan Tuhan seperti Hana, supaya kita mendapatkan janjiNya. Anak rohani, TA, Pergumulan financial mempunyai potensi menghancurkan kita.

Tetapi kalau jiwa kita hancur dihadapan Tuhan, maka kita tidak akan hancur karena masalah.

Kalau jiwa kita tidak hancur dalam seruan dan doa kepada Tuhan, maka kita akan hancur karena masalah 

 

Ketika kita hancur hati, Tuhan bisa memproses kita. Seperti tanah liat ditangan Penjunan, dia membentuk kita menjadi lebih indah. Yang harus kita pahami juga seringkali ada bagian-bagian yang tidak beres dalam hidup kita, yang Tuhan mau bentuk. Tapi kita terlalu keras kepala dan keras hati untuk berubah. Maka masalah datang untuk menghancurkan hati kita. Jangan menyerah dalam pembentukan Tuhan, supaya engkau mendapatkan Samuelmu, janji Tuhan !

Kadang-kadang itu satu doa lagi seperti Hana, kadang-kadang satu kunjungan lagi, kadang-kadang satu tindakan iman lagi dan Samuel pun datang. Apakah kita akan melepaskan janji Tuhan dan menyerah seperti org kalah ? (Padahal mungkin sekali jawaban doa sudah didepan mata ? ) Tidak ! Kita lebih dari Pemenang dalam Kristus Yesus yang mengasihi kita (Roma 8:37)

552531_499639976719854_1743952358_n

 GBU.

Oleh: Parlin Sianipar, Sion Ministry’s Pastor

Jadi apakah kita perlu menanggapi Tuhan dengan serius ?


Seorang hamba Tuhan pernah berkata : tempat yang paling berbahaya adalah ditengah-tengah jalan. Alkitab berkata :  Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku (Wahyu 3:16). Iblis paling senang apabila kita menjadi orang-orang medioker.Menjadi kambing yang pura-pura sebagai domba atau menjadi domba yang seumur hidup bertingkah laku sebagai kambing. Dia dengan pandainya berkata: “tidak usahlah terlalu serius.., cukuplah ke gereja, beri persembahan. Untuk apa PI, pemuridan dan misi ? Itu terlalu berlebihan. Tuh lihat teman-temanmu satu jurusan. Yang lain juga begitu kan ? Kamu mau dianggap gila ?”

Tapi Tuhan berkata : “Aku akan muntahkan engkau” atau bahasa seriusnya: “karena engkau mendua hati, maka Aku anggap engkau sebagai kambing.” Tuhan tidak kenal grey area. Apakah Tuhan, atau dunia ini, pilih salah satu. Yang 50 persen-50persen, atau bahkan yang 99 persen ikut Tuhan, dan 1 persen dunia, dianggap 100 persen dimuntahkan.

Jadi apakah kita perlu menanggapi Tuhan dengan serius ?

Tentu saja jenius ! Mengapa ?

1.       KarenaYesus mati dengan serius bagi kita

Kematian dengan cara disalibkan adalah salah satu cara kematian yang paling mengerikan yang pernah didesain oleh manusia, karena tiga hal:

a.      Kematian dengan rasa malu. Pada masa pemerintahan Romawi, ada begitu banyak cara yang digunakan untuk mendatangkan kematian kepada orang lain. Mereka tahu bagaimana cara menghukum mati orang dengan biaya yang sangat murah. Ada orang yang dirajam, dibunuh dengan pedang,dibakar dengan api, dipukul sampai mati. Salib di lain sisi memerlukan empat tentara dan seorang perwira sebagai pengawas. Mereka perlu menyiapkan kayu salib dan tentara untuk menjaga orang yang tersalib memikul salibnya sampai keluar kota,dimana dia harus mati. Biayanya mahal.

Jadi penyaliban dilakukan bukan hanya untuk mengeksekusi mati tapi untuk mempermalukan orang tereksekusi dan menjadikannya contoh bagi bangsa yang dijajah mengenai upah pemberontakan terhadap Kerajaan Roma. Seorang yang disalib akan tergantung diudara, dalam keadaan sepenuhnya telanjang dan menjadi tontonan banyak orang.

Ini kematian yang tidak tanggung-tanggung. Ini kematian yang begitu serius. Berapa banyak dari kita yang rela mati dalam keadaan telanjang dan dipermalukan bagi orang lain ? Kenapa Raja Segala Semesta memilih kayu salib sebagai wahana kematianNya ? Harga yang dia tanggung meliputi semua rasa malu yang harusnya kita tanggung karena dosa. Dikayu salib,Yesus seakan-akan hendak berkata, inilah semua yang rela Aku tanggung karena Aku mengasihimu. Aku benar-benar SERIUS mengasihimu.

b.     Kematian secara perlahan-lahan

Salib diciptakan di Persia dan disempurnakan oleh kerajaan Romawi sebagai metode yang memaksimalkan rasa sakit dalam periode waktu yang cukup panjang. Salib biasanya diperuntukkan hanya untuk budak dan penjahat yang paling keji. Ada hukum Romawi yang melarang penyaliban digunakan untuk mereka yang merupakan warga negara kerajaan.

Seseorang yang disalib akan mati secara perlahan-lahan. Sering sekali proses ini memakan waktu belasan jam sampai dengan 2-3 hari. Mereka yang disalibkan mati oleh karena efek tercekik yang disebabkan kondisi penyaliban. Tubuh yang disalib mengalami dua kesulitan :kesulitan dalam menopang tubuh, dan kesulitan dalam bernafas akibat bagian dalam yang mengalami tekanan. Ketika seseorang yang disalib mengalami kesulitan bernafas, dia berusaha menaikkan posisi tubuhnya yang melorot akibat gaya gravitasi dengan kakinya yang terpaku. Tapi tidak lama, kaki yang terpaku itu akan begitu sakit, sampai tubuhnya akan melorot lagi dan seluruh beban tubuhnya berpindah ke tangan yang terentang. Posisi tubuh seperti ini akan mencekik paru-parunya dan dia berhenti bernafas. Maka berulang kali dia akan berpindah dari posisi satu ke yang lain, sampai dia terlalu lelah. Dan kemudian mati tercekik atau mengalami kegagalan jantung.

c.      Kematian yang begitu menyakitkan

Kematian di kayu salib begitu menyakitkan. Kata “excruating”yang bermakna penderitaan atau sakit yang begitu mengerikan datang dari bahasa Latin : ex dan cruciate, yang berarti karena salib. Sebelumnya, Yesus juga mengalami hemohidrosi dimana kapiler pembuluh darahnya pecah dalam doa di Gethsemane, Dia harus berjalan 2,5 mil ketika Dia diadili, tidak tidur semalaman, melalui 6 kali pengadilan, dipukuli, dihajar dan diejek sepanjang malam, kemudian Dia dicambuk 39 kali menggunakan flagrum, suatu cambuk yang ditempeli tulang dan besi yang tajam (sering sekali banyak yang mati dalam proses pencambukan ini). Kemudian kepalaNya di mahkotai duri sepanjang 1-2 inci dan prajurit Romawi terus menerus memukuliNya dikepala yang menyebabkan pendarahan yang hebat lewat kepala. Didalam perjalananNya ke Golgota, Dia terus menerus dipukuli sampai wajahNya begitu rusak. Melalui via Dolorosa, sepanjang 650 yard, Yesus perlu mengangkat salibNya dengan berat 40-55 kg keatas bukit.

 

Dalam penyalibanNya prajurit Romawi menggunakan paku sepanjang 5-7 inchi, dan menyebabkan rasa sakit yang tidak bisa diredakan oleh morfin sekalipun. Dan selama 18 jam penderitaan ini, Yesus tetap bisa melepaskan diri dari semuanya ini. Kita harus mengingat bahwa Dia menolak pembelaan dari Herodes dan Pilatus, Dia tidak mendatangkan 12 pasukan malaikat untuk membelaNya, Dia menolak anggur yang menghilangkan kesadaranNya, dan Dia mati karena jantung yang pecah (“a broken heart”). Didalam keTuhananNya, Yesus memilih sendiri untuk menyerahkan nyawaNya.

Yesus tidak setengah-setengah dalam kematianNya. KematianNya adalah kematian yang begitu serius, menepati seluruh nubuatan Nabi mengenai Mesias yang menderita. Apakah menurutmu kematianNya adalah kematian yang paling serius yang pernah ada ? Sebesar itulah besar cintaNya kepadamu.Kalau begitu apa yang engkau lakukan karena cintamu kepadaNya ? Apakah cintamu benar-benar cinta yang serius ?

2.       Karena Dia mengalahkan maut dengan serius untuk kita.

 

Apa jadinya kalau kebangkitannya adalah suatu candaan ? Alkitab berkata :

1Co 15:17  Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, makasia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.

1Co 15:18  Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus.

1Co 15:19  Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.

Apabila kebangkitan Kristus adalah candaan, maka kita adalah yang paling malang dari segala manusia.Tanpa kebangkitan Kristus, maka semua manusia akan binasa. Tidak ada pengharapan, semua yang kita percaya adalah sia-sia.

KebangkitanNya adalah kebangkitan yang serius. Apakah kita mau benar-benar serius mempercayai ini. Bahwa Dia sudah menang atas dosa, dan maut ? Apakah kita mau mati terhadap manusia lama kita secara serius, supaya kita menikmati kuasa dalam kebangkitanNya ?

3.       Karena Dia akan benar-benar serius memerintah untuk selama-lamanya.

PenghakimanNya akan menjadi penghakiman yang benar-benar serius. Setiap orang suka-atau tidak suka , suatu saat akan menghadapi penghakiman ini. Mereka yang benar-benar serius akan perkataanNya dihitung sebagai domba, dan mereka yang tidak serius akan dihitung sebagai kambing.

Kita hanya punya satu kesempatan menjalani hidup. Setelah itu kita harus mempertanggung-jawabkan bagaimana cara kita menjalani kehidupan di bumi ini. Di depan tahta penghakiman, tidak ada lagi yang akan berkata: “maaf Tuhan, aku tidak serius kok akan segala dosa-dosaku”, mohon ujian ulangan.

Sebelum saat itu tiba, kita perlu memastikan bahwa kita benar-benar serius menjalani panggilan Tuhan selama kita di bumi ini.

 

Oleh; Parlin Sianipar, Sion Ministry’s Pastor

Died So Serious


Died So Serious ? Sungguh judul yang aneh. Perasaan ga ada orang mau mati tapi masih ketawa. Kalau masih ketawa, berarti ga mati,

Benar sekali, jenius. Mati memang perkara serius. Lihat saja semua orang mati, begitu serius dalam kematiannya. Tapi bukan hanya kematian sebenarnya. Seluruh kehidupan manusia adalah perkara serius: sakit penyakit itu serius, bokek alias bangkrut itu serius, dapat nilai E di satu mata kuliah tertentu juga serius termasuk tidak mendapatkan TH setelah usia 30 tahun (seperti saya dulu) juga adalah perkara yang sangat-sangat-sangat serius.

Jika seluruh kehidupan kita dan kematian kita adalah perkara serius, lantas kenapa milyaran manusia cenderung memperlakukan hidup seperti suatu candaan ? Maksud loe ? Lihat saja bagaimana banyak orang hidup tanpa tujuan kekal, disia-siakan untuk memperoleh semua yang sifatnya sementara, bersusah payah menumpuk banyak hal yang pada akhirnya akan dinikmati orang lain. Atau misalnya kisah seorang anak rantauan, yang ketika pulang kembali ke kampung halaman di masa liburan untuk memberitakan kabar keselamatan kepada keluarganya. Dan ayahnya berkata :”butet, kenapa serius kali kau yang ikut Tuhan itu ? lama-lama bisa jadi nabi kau: nabirong.”

Serius kali ikut Tuhan ? Emang ada ya ikut Tuhan tapi becanda. Ikut Tuhan tapi ga serius. Cuma ecek-ecek kata orang Medan.

Well kalau melihat sepanjang sejarah alkitab, ternyata kecenderungan manusia sering kali untuk tidak menerima Tuhan seperti apa yang Dia katakan mengenai diriNya. Atau dalam bahasa kurang seriusnya adalah, kita manusia sering sekali menganggap Dia bercanda. Lihat saja Sarah dalam kejadian yang dia anggap lucu ini :

Gen18:12  Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: “Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?”

Gen18:13  Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Abraham: “Mengapakah Sara tertawa dan berkata: Sungguhkah aku akan melahirkan anak, sedangkan aku telah tua?

Gen18:14  Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN? Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki.”

Gen18:15  Lalu Sara menyangkal, katanya:”Aku tidak tertawa,” sebab ia takut; tetapi TUHAN berfirman:”Tidak, memang engkau tertawa!”

 

Sara menganggap janji Tuhan sebagai sesuatu yang tidak serius. Dan Tuhan menjawab:”adakah sesuatu yang mustahil untuk Tuhan ?“ Atau seperti di kisah lain dalam Markus 5:39-42, dimana Yesus membangkitkan anak Yairus yang telah mati. Yesus berkata :”anak ini tidak mati”, dan seketika itu orang-orang yang semula menangis menjadi tertawa. Heran sekali, apakah semua orang menganggap tidak serius perkataan Tuhan ? Hei, ini bukan kabar gembira (kulit manggis kini ada ekstraknya). Ini kabar BAIK, jadi seriuslah sedikit!

Mengapa tidak Serius ?

Saya temukan banyak orang tidak serius dalam menanggapi Alkitab, dalam menanggapi panggilan Tuhan bagi yang terhilang, dan dalam menanggapi panggilan mulianya atas generasi ini, dikarenakan ketidak percayaan.

Ketidak percayaan membuat Sara tertawa. Dia berkata “akan berahikah aku ?” Alih-alih memandang pekerjaan Kristus yang telah selesai diatas salib, seperti Sara, mereka yang tidak percaya akan memandang kepada kemampuan dan kekuatan dirinya sendiri. Semua hal didunia ini adalah mengenai aku, diriku dan mauku. Dari pengejaran kenikmatan sementara satu kepada kenikmatan sementara yang lain. Kehidupan kekal tidak pernah dianggap sesuatu yang serius dan membutuhkan pemikiran yang mendalam, dosa dianggap suatu kesenangan yang tidak serius dan tidak akan merusak hidup siapapun. Keselamatan dianggap tidak terlalu dibutuhkan, paling tidak keselamatan tidak diperlukan untuk hari ini. Intinya, bahwa semua kebenaran dalam Alkitab itu tidak perlu dianggap serius. Kalau kita serius dan betul-betul serius dengan apa yang Alkitab katakan, kesan yang kita dapat dari beberapa orang, bahwa kita mungkin sedang terjangkit penyakit yang mematikan,atau sudah berubah jadi orang gila.

Teman dan keluarga, ayah ibu sekalipun,yang belum menemukan iman dalam Yesus Kristus, dan belum pernah mengalami mujizat kelahiran kembali, pastinya akan menganggap perkataan Kristus sebagai suatu yang tidak serius. Saat dia melihat anaknya dengan tekun mengikuti Kristus, dia melihat hal itu sebagai berlebihan. “Itu terlalu serius.” Mereka tidak paham akan pengalaman sejati dengan Kristus ini, karena mereka belum mengalaminya. Mereka masih merupakan kumpulan orang-orang terkutuk, penduduk neraka yang sekarang ini duduk dalam lembah bayang-bayang maut.

Anda berpikir perkataan saya terlalu berlebihan? apakah saya terlalu serius ? Tapi itulah kebenarannya,dan itulah sebabnya mengapa kita perlu memberitakan Injil kepada mereka. Neraka adalah kenyataan yang sangat serius yang disingkapkan oleh Alkitab. Suka, tidak suka, neraka itu ada. Karena itu logika yang runut adalah, apabila kita tidak memberitakan kabar baik kepada keluarga kita, maka kita adalah orang-orang yang kejam. Yang begitu tega membiarkan keluarga kita dibakar dalam api selama-lamanya.

Tetapi ketika mereka menerima Injil, hal yang dulunya terlalu serius bagi mereka, bahkan menjadi sesuatu yang perlu ditingkatkan. Kenapa ? Karena realitas mereka telah terbakar penuh didalam iman kepada Anak Allah. Bahwa Yesus HIDUP, dan Dia adalah Emmanuel! Mendadak mereka yang mengalami kelahiran baru melihat semua perkataan Yesus adalah perkataan yang benar-benar serius ditujukan bagi mereka. Ketika Yesus katakan ,pergilah kepada segala bangsa, maka orang-orang ini akan pergi. Ketika Injil berkata, berilah maka akan diberi, maka mereka akan memberi dengan begitusukacita. Semua itu nampak begitu ekstrem bagi dunia, tapi nampak begitu normal dimata Allah.

 

Jadi apakah kita perlu menanggapi Tuhan dengan serius ?

 

Oleh: Parlin Sianipar, Sion Ministry’s Pastor

Hidup Dengan Rasa Tertuduh


Supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya. –Efesus 1:6-7

Kita adalah orang-orang yang dikasihi Allah dan diterima oleh-Nya sebagaimana diri kita. Kasih sayang-Nya tidak bersyarat bagi kita, tidak berbatas dan melimpah bagi kita. Oleh kasih karunia-Nya, kita menerima pengampunan, penebusan dan keselamatan. Ini berarti kita tidak usah sempurna dahulu untuk menjadi benar di hadapan Allah. Melalui iman kita di dalam Tuhan, kita dibenarkan, kita menerima kasih karunia dan berkat-Nya. Namun ada hal-hal yang bisa membuat janji dan berkat Allah tidak terjadi dalam kehidupan kita.

Walaupun sudah bertobat, menerima pengampunan dan lahir baru, kita bisa hidup di bawah self-condemnation, hidup dengan rasa tertuduh, terhukum, bersalah. Kita masih merasa bersalah atas dosa masa lampau kita, merasa diri kita tidak layak dan tidak bisa menjadi seperti apa yang Tuhan inginkan. Ini membuat kita tawar hati dan patah semangat, akibatnya kita tidak bisa hidup dibebaskan dan dilepaskan total. Jika Anda seperti ini, fondasi kekristenan Anda sudah salah.

Sadari bahwa Tuhan tidak pernah menginginkan untuk kita terus merasa bersalah atau tertuduh (Roma 8:1). Tuhan mengasihi kita, karena itu Dia mengampuni kita. Allah berkata bahwa jika kita mengaku dosa Dia setia dan adil mengampuni kita (1 Yohanes 1:9). Terima dan percaya ini oleh karena iman kita di dalam janji-Nya, bukan karena apa yang kita rasa. Di mata Tuhan kita adalah orang yang dikuduskan, dibenarkan, disucikan. Kalau Anda tidak percaya pengampunan dari Tuhan dan membawa rasa tertuduh selalu, Anda akan menjadi Kristen yang tidak percaya diri dan lemah.

By: PS. Indri Gautama
Sumber: http://www.jawaban.com/news/spiritual/detail.php?id_news=110216145918

In Christ Alone, My Hope is Found


In Christ alone my hope is found;
He is my light, my strength, my song;
This cornerstone, this solid ground,
Firm through the fiercest drought and storm.
What heights of love, what depths of peace,
When fears are stilled, when strivings cease!
My comforter, my all in all—
Here in the love of Christ I stand.

In Christ alone, Who took on flesh,
Fullness of God in helpless babe!
This gift of love and righteousness,
Scorned by the ones He came to save.
Till on that cross as Jesus died,
The wrath of God was satisfied;
For ev’ry sin on Him was laid—
Here in the death of Christ I live.

There in the ground His body lay,
Light of the world by darkness slain;
Then bursting forth in glorious day,
Up from the grave He rose again!
And as He stands in victory,
Sin’s curse has lost its grip on me;
For I am His and He is mine—
Bought with the precious blood of Christ.

No guilt in life, no fear in death—
This is the pow’r of Christ in me;
From life’s first cry to final breath,
Jesus commands my destiny.
No pow’r of hell, no scheme of man,
Can ever pluck me from His hand;
Till He returns or calls me home—
Here in the pow’r of Christ I’ll stand.

Lagu ini sangat merhema buat hidupku hari-hari ini, sebab karena Kasih Karunia saja kita diselamatkan, bukan oleh perbuatan baik kita. Kita tidak layak menerima keselamatan itu, tetapi Allah yang melayakkan kita oleh karena kita percaya kepada Kristus. Rahasia hidup yang berkuasa adalah menerima segala sesuatu yang telah Yesus capai di kayu salib untuk kita. Oleh karena kita percaya kepada Kristus dan dibaptis dalam darahNya dan dalam RohNya yang kudus, kita menerima kuasa dan kasih karunia, sehingga kita dapat hidup berkemenangan, berkuasa, dan mendampaki dunia. Haleluya, Terpujilah Tuhan Yesus.