Tuhan Allah tidak pernah meninggalkanku (Part One)


Yesaya

53:3 Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan.

53:4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.

53:5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

Ayat-ayat Firman Tuhan di atas selalu menjadi kekuatan bagiku di saat aku mengalami kelemahan ataupun penyakit dalam hidupku. Aku percaya bahwa Tuhan tidak pernah berbohong akan Firman-Nya. Dia selalu mengerjakan tepat pada waktu-Nya dan selalu di luar dugaan manusia (lebih dari apa yang kita pikirkan).

Aku sangat diberkati dengan ayat-ayat tersebut, dan itu menjadi nyata di dalam hidupku. Tuhan tidak pernah meninggalkanku, sekalipun aku jatuh, Dia selalu siap untuk membuka tanganNya menerima aku kembali dalam Kasih-Nya yang besar. Ia penyembuh yang hebat, Pemulih yang luar biasa. Beribu tahun silam Dia sudah datang ke dunia, dan menunjukkan kasih-Nya. Pengorbanan-Nya di kayu salib itu nyata, dan tidak sia-sia, bahkan sampai sekarang dampak pengorbanan-Nya, Karya-Nya menjadi sangat nyata dalam kehidupanku. Dia remuk oleh karena dosaku, Dia mati untukku, Dia dicambuk, supaya aku sembuh, Dia tertikam karena Dia tau bahwa Dia harus menyembuhkan setiap kelemahan kita, setiap keluh kesah kita, setiap penyakit dan ketakutan kita. Dia harus merelakan persekutuan dengan Bapa supaya kita memperoleh pemulihan persekutuan dengan Bapa yang telah dirusak oleh karena dosa.

Aku seorang pendosa tetapi Dia bersihkan dengan darahNya yang kudus, seorang yang penuh kesakitan karena keterikatan dosa tetapi disembuhkan oleh bilur-bilurNya. Sekitar 5 bulan yang lalu aku memeriksakan diri ke salah satu klinik di bandung untuk ikut tes VCT. Tes VCT ini untuk memeriksa apakah seseorang sudah terjangkit virus HIV atau belum. Dan hasil tes menyatakan aku positif HIV. Pertama aku mendengar hal itu bagiku itu suatu yang biasa saja. tetapi beberapa hari setelah aku mencoba menggali lebih banyak info tentang HIV, aku mulai diselimuti rasa ketakutan yang amat sangat. Kematian seakan begitu dekat dengaku, oh Tuhan kenapa sampai aku mengalami hal ini? Tetapi sekali lagi kukatakan bahwa inilah akibat dosa. Dosa mendatangkan maut! aku mulai takut untuk hidup dan bergaul dengan siapapun, aku mulai meragukan kuasa Tuhan yang mampu memulihkanku, tetapi aku tau, Tuhan tak pernah meninggalkanku! Aku menyadari bahwa sebelum aku tau hal ini, aku telah terjun terlalu jauh ke dalam dosa percabulan yaitu dosa homoseksual. Aku melakukan pergaulan bebas dengan banyak pria yang tak ku kenal, sampai aku menyadari bahwa aku terlalu jauh melangkah. Tetapi Tuhan mengasihiku, Ia mau supaya aku kembali berbalik padaNya walaupun ada konsekuensi dari dosa yang aku lakukan. Sejak itu aku hanya bisa menangis, mengurung diri dan pengen sekali ingin bunuh diri. Tetapi selalu saja ada kekuatan entah darimana sehingga aku bisa bertahan.

Sejak pemeriksaan Virus HIV lewat VCT tersebut, aku dan kakakku pun pergi untuk konseling selanjutnya. Sebelumnya kami berdoa supaya Tuhan menyatakan bagaimana kami harus menghadapinya, apakah harus benar pergi konseling dan mengambil obat atau menunggu mujizat Tuhan. Tetapi Dia mau supaya aku mengikuti proses terapi layaknya orang yang sudah terjangkit HIV (ODHA). Dengan keyakinan kami pergi ke konseling bertemu dokter dan mulai terapi minum obat ARV selama seminggu. Aku tau kalau aku sudah mulai minum obat, itu artinya akan selalu aku lakukan sampai akhir hidupku. Ketakutan itu muncul lagi karena aku paling tidak nyaman dengan yang namanya obat apalagi harus seumur hidupku. Beberapa minggu setelah terapi obat, aku mengalami DBD dan sindrome yang membuat kulitku pecah-pecah dan menjadi hitam. Disitu aku sudah mulai ragu lagi dengan Tuhan, tetapi kakakku tetap menguatkanku dan juga teman-temanku dan pembimbing rohaniku. Tuhan mau supaya aku pulang ke Nias bertemu dengan keluarga dan terbuka serta rekonsiliasi dengan orangtuaku. Dengan tubuh yang sangat lemah aku pulang Nias, Di pesawat aku sudah hampir mati tetapi Tuhan tetap menjaga dan menguatkanku sehingga aku sampai di rumahku di Nias dengan selamat walau dalam keadaan yang mengerikan. Orangtuaku terkejut dan sedih melihat keadaanku. Aku pun mengambil waktu yang tepat untuk ngobrol dengan mereka. Pada waktu ngobrol, ada begitu banyak ketakutan dan intimidasi, tetapi aku tetap beranikan diri untuk jujur. Dan setelah ortu tau mengenai hal ini, mereka tidak marah padaku tetapi mereka sedih dan menangis dan berdoa minta ampun serta kesembuhan yang dari Tuhan. Aku sangat bersyukur, aku bisa terbuka dan rekonsiliasi dengan mereka. Mama dan papaku tetap menguatkanku dan terus mengingatkanku akan janji-janji Tuhan yang menyembuhkan. Tuhan menyembuhkanku dari DBD dan sindrome tersebut. Dua minggu lebih aku di Nias dan aku cukup kuat untuk kembali lagi ke bandung. Puji Tuhan! (tetapi aku masih harus terus terapi obat ARV).

Satu setengah bulan setelah aku kembali ke bandung aku terkena anemia yang luar biasa, dan juga asam lambung yang tinggi selama berminggu-minggu hingga akhirnya pada akhir april 2012 aku di rawat di Rumah Sakit. Intimidasi kembali datang dan imanku mulai melemah. Pada saat itu yang kupikirkan hanyalah kematian dan kematian, ga ada gairah untuk hidup lagi. Kepala begitu pusing dan badan panas dingin. HB (Hemoglobin) ku turun drastis pada skala 5 dari skala normal 12. Tetapi aku tetap pegang janji Tuhan di Yesaya 53 bahwa Dia telah menyembuhkanku oleh bilur-bilurnya dan bagianku adalah percaya saja. Beberapa hari di rumah sakit banyak teman-teman 2007 pelayanan Sion dan juga mamaku menjenguk dan memberikan support, dan aku sangat diberkati oleh kehadiran mereka. Setelah transfusi darah dan HBku naik ke skala 7 aku diizinkan untuk di rawat jalan dan pulang dari RS. Aku konsultasi ke klinik dimana aku terapi obat ARV bahwa memang ada efek samping obat tersebut yang menyebabkan penderita yang mengonsumsinya terkena Anemia yang luar biasa. Obatpun di substitusi ke obat yang baru yang efeknya lebih kecil. Tetapi 2 minggu setelah itu aku kembali mengalami penurunan sel darah merah (HB) yang drastis dan anemia akut. Kepala mulai lagi pusing dan panas dingin. Aku hanya bisa berbaring di tempat tidur Kosan selama 2 minggu, dan aku hanya bisa menangis, ingin rasanya bunuh diri. Tuhan kenapa Kau membiarkan aku lagi dalam keadaan lemah seperti ini?? teriak batinku. Aku mencoba untuk bunuh diri tetapi Tuhan tidak mau aku melakukan hal itu, selalu ada yang meenghalangiku. Puji Tuhan, pada akhir Mei 2012 seorang rekan 2007 Lukman, mau menolongku mengantarkan kerumah sakit kembali. Saat mendaftar untuk menemui dokter penyakit dalam aku tidak tau lagi dan sudah mulai hilang kesadaran. Pandangan sudah gelap dan kaki sudah sangat lemah, tapi Tuhan tetap menguatkanku. HB ku mulai diperiksa dan skalanya turun drastis menjadi 3. Menurut Medis, orang yang HB nya skala 3 sudah sangat kristis bahkan ada yang sampai meninggal. Puji Tuhan aku masih diberikan kesempatan hidup.  Aku kembali di rawat dan di transfusi 6 labu darah selama 3 hari. Setelah 3 hari tersebut aku boleh rawat jalan lagi dan pulang kekosan. Yang lebih luar biasanya lagi, aku tidak pernah lagi mengalami anemia sampai sekarang.

Tuhan mau supaya aku sembuh dan melayani Dia lagi. Dia membebaskanku dari keterikatan Imagehomoseksual. Aku bersyukur bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkanku sedetikpun. Bahkan di saat-saat menghadapi kematian, Dia memberikan kehidupan yang nyata kurasakan. Tuhan mengasihiku dan Dia tidak ingin aku mati dalam kesia-siaan. Karena aku mau semakin percaya dan berharap hanya kepadaNya. Sekalipun saat ini aku masih terapi obat ARV, namun aku percaya Tuhan pasti akan menyembuhkan aku dengan mujizatNya yang nyata sehingga aku tidak perlu lagi minum ARV dan bisa menjadi kesaksian bagi banyak orang yang mengidap HIV.  Sampai sekarang aku tidak lagi mengalami rasa pusing, anemia dan panas dingin, dan sampai saat ini Tuhan mengijinkan aku kembali menikmati hubungan yang intim denganNya dan boleh melayani Dia dengan keadaan yang sehat. Dan aku pun dapat kembali mengerjakan TA/Skripsi….

Praise the Lord, Jesus Christ….!

Inilah lagu yang selalu merhema dihatiku sejak aku sembuh total dari anemia:

KAU BAPA YANG MENGASIHIKU

KUASA-MU MEMULIHKANKU

HATI YANG BARU KAU BERIKAN

UNTUK KU DAPAT MELIHAT

RENCANA-MU INDAH BAGIKU

KAU ADA DI S’TIAP JALANKU

HATIKU HAUS DAN LAPAR

AKAN ENGKAU

REFF:

KAULAH SEGALANYA DI DALAM HIDUPKU

KERAJAAN-MU KEBENARAN-MU ITU BAGIANKU

KAULAH YANG KU PANDANG SELAMA HIDUPKU

MENGASIHI-MU MEMULIAKAN-MU

BAPA DAN RAJAKU

Dalam Tuhan selalu ada Kekuatan dan HARAPAN…!!!

Nantikan part berikutnya…….

 

2 responses to “Tuhan Allah tidak pernah meninggalkanku (Part One)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s